This One Belong To You

22 Mar

Dear you,

Iya… kamu…

Kamu yang menyita pikiranku akhir-akhir ini, membuat semua fokus teralihkan hanya pada kamu. Kamu yang sempat mengembalikan kepercayaanku pada eksistensi cinta, komitmen, dan pengorbanan. Kamu yang akhirnya menyadarkanku bahwa menjadi makhluk independent terkadang merugikan karena toh pada akhirnya setiap orang (termasuk aku) membutuhkan eksistensi orang lain untuk saling menguatkan atau bahkan cuma sekedar berbagi cerita. Kamu yang sempat memberikan sedikit pencerahan dan kebahagiaan.

Tapi kamu juga temporary. Begitu cepatnya perkenalan mungkin menjadi salah satu alasan kenapa hubungan kita berkesan seperti hubungan instan dan singkat.

Kamu juga membuatku sedih. Membuat aku yang kuat terlihat sangat lemah. Lemah selemah-lemahnya karena kamu berhasil membuat aku menangis, sedih, bahkan hingga sakit.

Dan lalu, dalam hitungan sesingkat perkenalan kita, kamu juga mengubah ketulusan-ketulusanku dalam berbuat menjadi suatu pertanyaan besar. Pertanyaan haruskah aku terus bersikap tulus jika pada akhirnya yang kudapatkan hanya rasa saki. Dan bahkan pertanyaan mengenai eksistensi ketulusan itu sendiri.

Hari ini, entah kenapa aku tidak lagi bisa mengalihkan pikiranku dari kamu. Sementara deadline semakin menipis dan tugas yang harus kukerjakan semakin banyak. Sementara masih ada begitu banyak hal yang harusnya kufokuskan. Kamu tetap tidak bisa beranjak dari pikiranku. Membuat semua yang penting mendadak menjadi tidak penting.

Lalu aku mulai berusaha dengan segala cara untuk menghilangkan fokus ini. Lari keliling lapangan yang pada akhirnya membuat badanku yang sedang kurang sehat menjadi semakin sakit karena aku terlalu lelah. Menelepon beberapa orang teman, berbicara ngalor ngidul tentang kehidupan yang semakin lama terasa semakin kompleks. Menyanyikan lagu-lagu Alanis Morisette. Membaca buku. Menonton film-film drama komedi. Minum kopi. Bahkan sampai mempelajari begitu banyak hal baru. Dan tebak… semuanya itu malah membuatku semakin ingat kamu.

Ternyata kehilangan kamu tidak semudah yang kupikirkan sebelumnya. Kehilangan kamu benar-benar membuatku merasa sakit, capek, lelah, bosan, dan masih banyak lagi emosi lainnya yang membanjiri perasaan ini hingga akhirnya terkumpul menjadi sebuah perasaan yang kusebut: nggak karuan.

Tanpa bermaksud mengingkari atau menyesali kenyataan, tapi hari ini aku benar-benar berharap waktu itu aku tidak ikut dengan temanmu ke sebuah tempat pertemuan kita pertama kali, berharap aku menolak permintaannya untuk nitip transferan, berharap ATM tidak penuh, harapan-harapan yang jika terjadi maka akan membatalkan pertemuan kita.

Lalu jika memang kita harus bertemu, salahkah aku jika aku berharap untuk tidak membicarakan pekerjaan sama sekali. Tidak menjanjikan untuk mencarikan pekerjaan. Tidak memberikan nomor teleponku. Tidak membalas semua sms-sms mu.

Tapi semua itu hanya harapa. Harapan yang malah membuatku semakin sakit.

Hari ini aku benar-benar ingin berbicara semuanya padamu. Berbicara tentang perasaanku. Tapi aku tahu aku takkan mampu mengungkapkan semuanya padamu, maka aku mulai menulis di sini, sebuah media yang mungkin akan berkesan over expose tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar mungkin di satu masa,kamu membaca dan mulai mengerti semua perasaanku.

Kamu membuatku sakit. Sakit sesakit-sakitnya. Bahkan sakit di dada ini, serangan jantung ini sama sekali tidak berarti dibandingkan rasa sakit di hatiku.

Kamu melukaiku dengan ketidakkonsistenanmu. Meski aku tahu pasti kamu memang bukan tipikal manusia yang konsisten, tapi aku benar-benar tidak menyangka dengan perubahanmu yang drastis. Aku jelas tidak dipersiapkan menghadapi sikapmu yang tidak konsisten.

Kamu melukaiku dengan caramu meminta kesempatan kedua padaku. Dengan janjimu untuk berusaha bersikap konsisten tapi lalu yang kulihat kamu hanya berusaha selama 2 hari, setelah itu kamu benar-benar berubah. Bukankah sudah kuingatkan untuk melepasku jika kamu memang tidak bisa konsisten? Bukankah aku sudah sangat meminta untuk menghentikan semuanya karena ketidakkonsistenanmu hanya akan melukaiku?

Kamu melukaiku dengan pikiranmu tentang kamu yang tidak bisa mengimbangi aku, meskipun aku tidak pernah memiilih untuk hidup dalam kehidupanku yang sekarang ini.

Kamu melukaiku dengan ketakutanmu akan aku yang akan mengikatmu. Padahal jika kamu mau mendengarkan sekali saja perkataanku, aku bukanlah tipe orang yang suka mengikat dan terikat.

Kamu melukaiku dengan kebiasaanmu melupakan janji yang kau buat sendiri untukku. Janji-janji kosong yang sekarang kupikir hanya sebuah lips service untuk membuatku merasa tenang tapi pada akhirnya malah melukaiku.

Kamu melukaiku dengan segala keraguanmu. Keraguan yang tanpa harus kujelaskan, aku yakin kamu sudah tahu pasti apa maksudku.

Dan terakhir, kamu melukaiku dengan sikapmu yang tidak tegas dan terkesan menutup-nutupi sesuatu dariku.

Aku hanya ingin kamu tahu semuanya…

And it’s raining hard outside just like what I feel

18 Responses to “This One Belong To You”

  1. sunardi March 22, 2009 at 9:32 am #

    Write this words in a BIG letter in his face.
    “I’ll sue you. I’ll sue you for stealing my heart.”
    🙂

  2. ampun deh March 22, 2009 at 9:59 am #

    Aku?

  3. gdenarayana March 22, 2009 at 10:19 am #

    waduh sudah diungkapkan:mrgreen:

    kirain saya yang ditunjuk dari awal baca, ternyata orang laen😆

    yo wes, tak traktir makan ajah non daripada pusing dan engga karuan masih ada harapan di tengah badai ujan sapa tau sadar orangnya😉

  4. petra March 22, 2009 at 12:21 pm #

    meski gak pernah ngerasain sedalam apa sakitnya,
    cuman bisa bilang, “Semangat, sen! Semangat!”

  5. unduk March 22, 2009 at 4:00 pm #

    Blak-blakan aja, tanya terus terang.
    “Mas, sampeyan masih cinta engga seh sama gw ?, Kalo masih cinta, kita merid yuk. Kalo udah engga cinta, gw mo nyari yang lain”.

  6. putrago March 22, 2009 at 11:06 pm #

    keluarkanlah semua isi hatimu sen

  7. sososibuk March 23, 2009 at 1:54 am #

    kalo gw bilang lupain karna dia ga baik buat lo gimana sen?

  8. ria manies March 23, 2009 at 4:07 am #

    aku baca dari atas ampe bawah…. hummmmmmmm…. lupain dia

  9. lala March 23, 2009 at 4:17 am #

    tah tah tah..

    kemana gw dan loe?… hahah ko jadi aku kamu???…

    *mikir.. ngomongin siapa siyh ini???

  10. macangadungan March 23, 2009 at 9:41 am #

    iya mbak, klo memang ndak bisa kasi komitmen dan hubungin yang dijalanin malah nyakitin, mendingan ditinggal aja

    hari ini sedih, siapa tahu lusa udah ketemu gebetan lain😛

  11. OP March 23, 2009 at 10:06 am #

    Waaah.. kalo terus tersakiti siy, buat apa ngasih kesempatan terus ama tuh orang ?

  12. Said March 25, 2009 at 2:28 am #

    Hai

  13. achoey March 25, 2009 at 4:51 pm #

    Sekarang dia tau kan?:)

  14. dafhy March 26, 2009 at 4:27 am #

    perjalanan masih panjang,dan masih banyak orang yang menyayangimu, tetep semangat ya

  15. angel March 26, 2009 at 4:57 am #

    huaa….capek deh…..semangat lah jeng…pak..mas..om…buk… semua semangat dong..

  16. theodora March 26, 2009 at 5:18 am #

    spirit…..

  17. angel March 26, 2009 at 6:02 am #

    jangan ngoyo….

  18. senny March 26, 2009 at 8:44 am #

    @sunardi: I would never do that cause that’ll hurt me
    @ampun deh: haha… ya bukanlah, saiy
    @petra: thx a lot, pet
    @unduk: saya belum siap kawin, mas huehe
    @putrago: udah keluar semua kok
    @shely: well, kali ini gue bakalan nurut sama lo
    @rie manis: I will, even if it feels so hard
    @lala: u know more, la
    @macan gadungan: iya deh…
    @op: iya juga ya, mbak
    @said: hai juga
    @achoey: masih belum tau kayaknya

    @ALL: thx banget yaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: