Archive | March, 2009

This Day

30 Mar

And I would never forget about this day.. March 30 2009

Hari dimana sebuah quotes dari From The Editor Cosmopolitan edisi April 2009 berhasil membuat hidup gue kembali normal.

“Kalo selama ini tentang saya… saya…, dan saya, kenapa harus ada kamu di dalamnya?”


Thank You

27 Mar

how bout me not blaming you for everything
how bout me enjoying the moment for once
how bout how good it feels to finally forgive you
how bout grieving it all one at a time

Song title: Thank You

By: Alanis Morissette

Ah, postingan kali ini gue udah nggak mau lagi bermellow-mellow ria, setelah kemarenan gue mengalami masalah percintaan yang lalu setelah dipikir-pikir lagi, ternyata semuanya nggak sesulit yang gue bayangin (meski gue akuin sulit banget sih ya…) dan semuanya terjadi cuma gara-gara kenaifan dan kebodohan gue aja. Haha… now you guys know that I’m a drama queen.

Oh ya, balik lagi ke soal postingan…di postingan yang kali ini gue mau berterima kasih sama semua orang-orang yang udah ngedukung gue banget. Ngasih support mereka sampai akhirnya gue bisa melewati masa patah hati gue (yang lumayan berat dan banyak memengaruhi gue).

Terima kasih gue yang pertama adalah tentu saja untuk my only one, Zhe. Manusia laknat yang selalu setia menemani gue dalam setiap masa, mulai dari masa galau sampai masa senang. Wanita yang akhirnya berhasil membalikan keadaan kembali normal. Wanita yang pada tanggal itu, dengan sabarnya memegangi tisu untuk gue dan menasehati gue panjang lebar dengan kata-kata yang dipastikan akan membuat siapa pun yang mendengarnya merasa dilecehkan tapi setelah dipikir-pikir semua yang diomongin bener banget. Sumpah deh cun… lo beneran bikin gue sakit sesakit-sakitnya kemaren ituhhh… Teman posesif gue yang justru dengan keposesifannya gue malah merasa sangat aman dan terjaga. You know I love you… ugh, sounds like lesbian, cun! hahahaa… MAri ah kita road trip lagi sambil nyanyi Alanis Morissette… Kali ini nggak pake curhat deeeehhhh

Terima kasih gue selanjutnya untuk Lala. Sang Obeex tercinta yang rela meluangkan begitu banyak waktu untuk mendengarkan ocehan-ocehan sampah nggak mutu dari gue. Sang Obeex yang harusnya selama dia nasehatin gue, dia ngomong sambil ngaca hehe… nggak ketang…

Terus, buat Natasya. Nona psikolog yang handal tapi ternyata butuh psikolog yang jauh lebih handal, ternama, terkenal, dan (mungkin) termaha haha…. Tapi beneran deh, advice dari lo itu, semuanya bermutu buat gue apalagi waktu ada masalah sama si ababil psikopat itu… Thanks banyak deh untuk jurus bikin dia mati gaya hahaha….

Terus buat mama yang entah kenapa mendadak perhatian pada hubungan gue dengan seorang pria. Mama yang ternyata merhatiin gue selama ini tanpa gue sadarin. Sorry udah bikin worry beberapa minggu terakhir ini…

Terus buat Uzi. Makhluk yang setelah sekian lama akhirnya berguna juga dalam hidup gue, meskipun itu cuma sebatas jadi kurir doang. Gue doain lo tobat dalam artian sebenernya, Zi…

Terus untuk kamu… Iyah, kamu… Temen-temen bloggerku tercinta yang tanpa kalian sadari, kalian udah membuat gue sangat kuat menghadapi semuanya. Temen-temen yang penuh pengertian dan sangat gue sayangi. I really nothing without you guys… Sorry banget nggak bisa nyebutin nama kalian satu per satu.

Dan terakhir… untuk kamu, sang pria yang telah membuat gue sakit sesakit sakitnya, nangis sejadi-jadinya. Sang pria yang berhasil memecundangi gue dalam waktu kurang dari satu bulan. Terima kasih banget karena in the end, lo udah bikin gue menjadi lebih dewasa dan lebih kuat lagi. 😉

And I really say thank you from the bottom of my heart

Halah… udah kayak artis ajah


This One Belong To You

22 Mar

Dear you,

Iya… kamu…

Kamu yang menyita pikiranku akhir-akhir ini, membuat semua fokus teralihkan hanya pada kamu. Kamu yang sempat mengembalikan kepercayaanku pada eksistensi cinta, komitmen, dan pengorbanan. Kamu yang akhirnya menyadarkanku bahwa menjadi makhluk independent terkadang merugikan karena toh pada akhirnya setiap orang (termasuk aku) membutuhkan eksistensi orang lain untuk saling menguatkan atau bahkan cuma sekedar berbagi cerita. Kamu yang sempat memberikan sedikit pencerahan dan kebahagiaan.

Tapi kamu juga temporary. Begitu cepatnya perkenalan mungkin menjadi salah satu alasan kenapa hubungan kita berkesan seperti hubungan instan dan singkat.

Kamu juga membuatku sedih. Membuat aku yang kuat terlihat sangat lemah. Lemah selemah-lemahnya karena kamu berhasil membuat aku menangis, sedih, bahkan hingga sakit.

Dan lalu, dalam hitungan sesingkat perkenalan kita, kamu juga mengubah ketulusan-ketulusanku dalam berbuat menjadi suatu pertanyaan besar. Pertanyaan haruskah aku terus bersikap tulus jika pada akhirnya yang kudapatkan hanya rasa saki. Dan bahkan pertanyaan mengenai eksistensi ketulusan itu sendiri.

Hari ini, entah kenapa aku tidak lagi bisa mengalihkan pikiranku dari kamu. Sementara deadline semakin menipis dan tugas yang harus kukerjakan semakin banyak. Sementara masih ada begitu banyak hal yang harusnya kufokuskan. Kamu tetap tidak bisa beranjak dari pikiranku. Membuat semua yang penting mendadak menjadi tidak penting.

Lalu aku mulai berusaha dengan segala cara untuk menghilangkan fokus ini. Lari keliling lapangan yang pada akhirnya membuat badanku yang sedang kurang sehat menjadi semakin sakit karena aku terlalu lelah. Menelepon beberapa orang teman, berbicara ngalor ngidul tentang kehidupan yang semakin lama terasa semakin kompleks. Menyanyikan lagu-lagu Alanis Morisette. Membaca buku. Menonton film-film drama komedi. Minum kopi. Bahkan sampai mempelajari begitu banyak hal baru. Dan tebak… semuanya itu malah membuatku semakin ingat kamu.

Ternyata kehilangan kamu tidak semudah yang kupikirkan sebelumnya. Kehilangan kamu benar-benar membuatku merasa sakit, capek, lelah, bosan, dan masih banyak lagi emosi lainnya yang membanjiri perasaan ini hingga akhirnya terkumpul menjadi sebuah perasaan yang kusebut: nggak karuan.

Tanpa bermaksud mengingkari atau menyesali kenyataan, tapi hari ini aku benar-benar berharap waktu itu aku tidak ikut dengan temanmu ke sebuah tempat pertemuan kita pertama kali, berharap aku menolak permintaannya untuk nitip transferan, berharap ATM tidak penuh, harapan-harapan yang jika terjadi maka akan membatalkan pertemuan kita.

Lalu jika memang kita harus bertemu, salahkah aku jika aku berharap untuk tidak membicarakan pekerjaan sama sekali. Tidak menjanjikan untuk mencarikan pekerjaan. Tidak memberikan nomor teleponku. Tidak membalas semua sms-sms mu.

Tapi semua itu hanya harapa. Harapan yang malah membuatku semakin sakit.

Hari ini aku benar-benar ingin berbicara semuanya padamu. Berbicara tentang perasaanku. Tapi aku tahu aku takkan mampu mengungkapkan semuanya padamu, maka aku mulai menulis di sini, sebuah media yang mungkin akan berkesan over expose tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar mungkin di satu masa,kamu membaca dan mulai mengerti semua perasaanku.

Kamu membuatku sakit. Sakit sesakit-sakitnya. Bahkan sakit di dada ini, serangan jantung ini sama sekali tidak berarti dibandingkan rasa sakit di hatiku.

Kamu melukaiku dengan ketidakkonsistenanmu. Meski aku tahu pasti kamu memang bukan tipikal manusia yang konsisten, tapi aku benar-benar tidak menyangka dengan perubahanmu yang drastis. Aku jelas tidak dipersiapkan menghadapi sikapmu yang tidak konsisten.

Kamu melukaiku dengan caramu meminta kesempatan kedua padaku. Dengan janjimu untuk berusaha bersikap konsisten tapi lalu yang kulihat kamu hanya berusaha selama 2 hari, setelah itu kamu benar-benar berubah. Bukankah sudah kuingatkan untuk melepasku jika kamu memang tidak bisa konsisten? Bukankah aku sudah sangat meminta untuk menghentikan semuanya karena ketidakkonsistenanmu hanya akan melukaiku?

Kamu melukaiku dengan pikiranmu tentang kamu yang tidak bisa mengimbangi aku, meskipun aku tidak pernah memiilih untuk hidup dalam kehidupanku yang sekarang ini.

Kamu melukaiku dengan ketakutanmu akan aku yang akan mengikatmu. Padahal jika kamu mau mendengarkan sekali saja perkataanku, aku bukanlah tipe orang yang suka mengikat dan terikat.

Kamu melukaiku dengan kebiasaanmu melupakan janji yang kau buat sendiri untukku. Janji-janji kosong yang sekarang kupikir hanya sebuah lips service untuk membuatku merasa tenang tapi pada akhirnya malah melukaiku.

Kamu melukaiku dengan segala keraguanmu. Keraguan yang tanpa harus kujelaskan, aku yakin kamu sudah tahu pasti apa maksudku.

Dan terakhir, kamu melukaiku dengan sikapmu yang tidak tegas dan terkesan menutup-nutupi sesuatu dariku.

Aku hanya ingin kamu tahu semuanya…

And it’s raining hard outside just like what I feel

Love.doc

9 Mar

This is what I hate about love…

Because I never have a choice to fall or not to fall

Because I never have a choice to whom I fall for

Because it’s makes me get so weak

Because it’s turn off my logic

Because it’s makes me crazy

Because sometimes it’s feel so hurt, so hurt that I can find another way to heal it but crying

And in the end…

I always be the one

Be the one who feel the pain

Be the one who cried

Be the one who put everything in my memories, a memories called:

Love.doc