Archive | 7:34 am

About Commitment

24 Feb

Familiar dengan kalimat ini:

“Kalo kita bisa seneng tanpa ada komitmen, ngapain juga harus dikasih komitmen?”

Yup, beberapa dari kalian pasti tahu banget kalimat ini. That was my favorite words waktu gue ditanya kenapa gue nggak juga memastikan hubungan gue dengan beberapa pria yang mendampingi gue. The fact is, I’m not ready yet, not force my self to have any commitment with the one beside me.

Tapi belakangan ini paradigma gue tentang sebuah komitmen berubah. Belakangan, eksistensi sebuah komitmen mendadak menjadi suatu hal yang penting banget.

And the question is:

How far commitment would take you?

Turun dari taksi terus jalan sepanjang fly over ang waktu itu lagi macet banget, dilanjutin dengan marathon sampai Simpang Dago cuma untuk buruan ketemu dengannya yang waktu itu lagi butuh banget legal advice. Bangun pagi-pagi banget (which is hard for not morning person like me) cuma untuk mendatangi rumahnya dan nganterin sandwich Circle K plus satu kaleng Nescafe dan mastiin dia tetap berangkat kerja sehabis semalaman nongkrong dahsyat sama temennya. Menghabiskan lebih dari setengah pemasukan sebulan cuma untuk bisa tempil bagus di depan dia. Kesakitan karena jalan-jalan di mall pake stileto 10 cm cuma untuk bikin dia terkesan. Begadang berhari-hari cuma untuk bikin kado ulang tahunnya.

Pernah ngelakuin hal senaif itu?

Well, I’ve beer there drunk that. Been there done that.

And how does it feel?

Silly, pain in the end, naive, or evenDUMB.

Ada saatnya dimana gue ngerasa marah sama diri gue sendiri but then I realize kalo justru itulah yang dimaksud komitmen.

For me, commitment is about push myself to the limit, even if it’s hurt.

So what about you, guys?

What do you think?