Archive | September, 2008

Habis Kontrak

27 Sep

Kemaren sore sempet chat sama Mhie, setelah lama banget kita lost contact. Mhie ini adalah teman gue di radio dulu. Dulu gue, Mhie, Opick, dan Ayu yang semuanya sama-sama anak radio itu tuh… yang sempat menjadi radio dengan ketinggian paling tinggi itu… dekat banget. Hampir tiap hari kita barengan, mulai dari shopping, ngopi-ngopi cantik, clubbing, ngegosip, ke undangan, atau bahkan cuma makan bareng di foodcourt BSM atau McD. We also share everything, mulai dari curhatan nggak penting sampai hal-hal yang intim yang nggak layak dibahas sekali pun.

Singkatnya, hubungan gue, Mhie, Opick, sama Ayu tuh deket banget.

Tapi as a normal relationship, hubungan kita nggak mulus juga kok. Kadang kita berantem, apalagi mengingat sifat Ayu yang kelewat sensitif dan Opick yang tukang ngaret. Pernah Ayu ngamuk berat dan telpon gue yang waktu itu lagi di kampus cuma buat memaki-maki karena Opick dan Mhie bikin Ayu nunggu di Bakso Tori (tukang bakso favorite kita yang letaknya tepat di depan SMP 7 Bandung) selama 1 jam. Gue juga pernah marah sama mereka untuk suatu masalah yang… yah nggak usah diceritainlah yah!

Terus seiring dengan berjalannya waktu (najis banget bahasa gue!), pertemuan gue sama mereka mulai berkurang. Dari yang asalnya tiap hari jadi seminggu beberapa kali aja, terus berkurang lagi jadi sebulan sekali, dan sekarang pertemuan gue dan mereka jadi nggak jelas. Gue bahkan nggak inget kapan terakhir kali jalan sama mereka secara lengkap.

How do I feel?
Kangen… kangen banget malahan. Pengen banget bisa ngumpul bareng mereka bertiga lagi secara utuh. Tapi kayaknya udah nggak mungkin lagi deh. Dan kalau pun kumpul-kumpul lagi, kayaknya keadaan nggak bakalan pernah sama.

Chat sama Mhie kemarin menyadarkan gue kalau waktu berjalan sangaaat cepat, begitu cepatnya sampai gue nggak menyadari begitu banyak waktu yang terbuang hingga akhirnya mengorbankan persahabatan gue sama mereka. Kalau sadar atau nggak sadar, sebuah hubungan terjalin atas sebuah kontrak tersembunyi yang mau nggak mau harus disetujui kayak… hubungan persahabatan kenal di kantor bakalan merenggang kalo udah pisah kantor, persahabatan di sekolah bakalan merenggang kalo udh nggak satu sekolah, dan things like that laaa…

Btw, mau sedikit cerita tentang mereka bertiga ahhh… Here is short profile about them:

Mhie adalah orang yang pertama deket sama gue. Such a great friend, apalagi mengingat dunia gue dikelilingi oleh pria-pria brengsek yang pada akhirnya malah jadi teman gue, Mhie adalah pria yang jauh berbeda. Mhie nggak brengsek, nggak suka maenin cewek, nggak suka nge-sex, dan pastinya dia selalu ada buat siapa pun. Jadi inget dulu, zaman gue lagi sumpek-sumpeknya kuliah, gue sering banget ngopi di Potluck dadakan dan Mhie selalu available buat gue. Jadi akhirnya niat kesendirian gue lenyap karena Mhie selalu ada buat gue, menemani gue ngopi-ngopi cantik di Potluck. Oh ya, Mhie ini juga baek banget kalo gue lagi nggak ada duit, dia pasti mau aja traktir gue makan atau beliin gue coklat. Mhie juga bersedia nemenin gue nyalon. Tapi Mhie mulai berubah sejak dia jadian sama seorang cewek abg yang posesif. Untung sekarang udah putus.

Opick. Bapak yang satu ini juga baik banget. Selalu ngasih gue tebengan dan nganterin gue sampei rumah tiap kali kita maen (let me tell you, ya… maen sama bapak yang satu ini jarang banget bisa pulang di bawah jam 10 malem). Opick sangat terobsesi sama segala hal yang berhubungan sama pesawat. Pernah gue lagi nganter temen gue yang mau ke Jepang, Opick telponin gue berkali-kali cuma buat mastiiin gue mengambil gambar para pramugari yang jalan sambil bawa-bawa koper di airport. Opick juga paling tahu soal banyak hal, mulai dari salon yang oke sampai tempat makan yang asyik.

Ayu. Oh my God…. Ayu… Ugh, wanita pembawa kesialan dalam hidup gue ituh. Sumpah! Ayu itu orangnya bolot banget! Pernah dia dengan bangga pamer kalo akhirnya dia daftar kuliahan dan waktu ditanya jurusan apa yang dia ambil, Ayu dengan entengnya jawab arsitek biar kerjaannya cuma duduk sambil garis-garis aja. Ayu juga moody banget dan sangat extrovert. Saking extrovertnya sampai kejadian putusnya dia dengan sang kekasih dia ceritain ke semua orang, sampai tukang cuankie yang biasa mangkal di depan radio aja tahu. Parah! Sebenernya sampe sekarang, di antara yang lainnya hubungan gue sama Ayu yang masih awet cuma sekarang dia kerja di Malaysia… jadi otomatis hubungan kita merenggang.

Selamat Hari Raya Iedul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin ya! 😉

Semakin Menggila

26 Sep

Tolong! Pra 21 Syndrom gue semakin menggila! Tolong alihkan perhatian gue! Bawa gue pergi seharian dan biarkan gue pulang dalam keadaan capek, beneran capek supaya nggak ada cukup waktu buat gue berpikir sendirian dan syndrom Pra 21 ini kambuh.

Pra 21 syndrom ini semakin menggila. Bikin gue susah tidur. Males makan. Mood kembali fluktuatif. Dan kata Zhe gue jadi berprilaku aneh ke orang-orang.

Sigh!

Tahun ini kayaknya nggak bakalan semenyenangkan tahun kemarin. Gue kehilangan banyak hal banget tahun ini. Nggak ada lagi teman-teman di acara ulang tahun gue tahun lalu.

Zhe nggak bakalan ada di hari ulang tahun gue karena adeknya bakalan tunangan.

Andy… sejak gue putus sama dia akhir tahun lalu, hubungan gue sama Andy jadi aneh. KIta masih baik-baik aja siy. MAsih keep contact. Masih suka jalan bareng. Tapi jadi beda aja, kadang suka canggung sendiri. Ugh, kalo aja gue bisa menyampaikan segala sesuatunya dengan lebih baik lagi, pasti nggak bakalan jadi begini.

Reivo juga nggak tahu dimana sekarang. Sejak kejadian waktu itu, Reivo dan gue nggak lagi berhubungan secara intens. Lagi-lagi ini salah gue.

Citra sekarang udah kerja di Singapore dan gue ragu dia bahkan inget hari ulang tahun gue.

Sidik, sejak pacaran sama pacar abg-nya yang posesif abis jadi jaga jarak sama gue dan temen-temen lainnya. Dia lebih milih brondong sial posesifnya itu dibandingin teman-temannya.

Asep, si boss bernama Mr. O itu sekarang udah terlibat dalam dunia yang jauh beda sama gue. Dunia gay yang nggak banget, beda sama dunia gay-nya Bembi.

Kalo tahun lalu gue ngerayain ulang tahun dua kali, yang pertama pesta dadakan dari Zhe terus weekend-nya gue karaokean plus nonton sama anak-anak radio, sekarang gue bahkan ragu kalau gue bakalan ngerayain ulang tahun gue.

Ugh, if age ain’t nothing but a number then why all of this feels so complicated?

P.S. Sekalian Mau ngucapin selamat hari raya iedul fitri, mohon maaf lahir batin yak!

Love Is Not Enough

25 Sep

Belakangan ini banyak banget hal yang harus gue lakuin, mulai dari urusan kerjaan sampai masalah pribadi. Bikin stress dan depresi akut menyerang. Berasa so much things to do tapi nggak ada cukup waktu. Tapi semalam akhirnya semuanya selesai setelah mencicil satu per satu dan ada yang harus gue lakuin hari ini. Malamnya, sama kayak malam-malam lepas stress, gue dan Zhe melakukan ritual nongkrong gila. Kali ini nggak cuma berdua tapi Bembi juga ikutan (yup that Bembi! My best gay friend itu lho ;))

Tempat hang out masih sama, itu lho Chili PAdi, tempat yang ada meja billiard gratisannya dan buka sampe subuh itu. Kali ini bahasan kita adalah tentang cinta-cintaan. Biasalah, ibu yang satu ini lagi galau gara-gara emaknya nyuruh-nyuruh dia buat married cepet-cepet.

Bakalan panjang ajah kalo gue cerita tentang obrolan kita, but don’t be sad karena gue bikin resumenya… Here is:

  1. Gue dan Zhe sama-sama takut. Takut akan kegagalan dalam berkomitmen dan so far, ketakutan itu yang bikin gue dan Zhe kesulitan dalam menjalani hubungan dengan pria-pria di luaran sana. Parahnya, di saat gue dan Zhe mengharapkan kedatangan seorang pangeran (najis banget bahasanya!) yang bisa bikin kita nggak takut lagi, pria-pria brengsek itu malah bikin kita semakin takut.
  2. Gue, Zhe, (dan Bembi?) sama-sama meragukan eksistensi cinta. Cinta terhadap pasangan maksudnya. Apalagi melihat situasi sekarang ini, love is not enough anymore.
  3. Dari Bembi, persahabatan gue, Zhe, dan Bembi adalah persahabatan yang aneh karena selain kita posesif satu sama lain, kalo kata Bembi (ini cuma kata Bembi lho!), persahabatan yang cuma dipenuhi oleh 3 orang ini isinya dua wanita cun dan satu pria cong hehehe…

Pra 21 Syndrom

19 Sep

Have I told you that I’m always have a big trouble when it comes to my b’day?

Well, yeah I have a big trouble about this.

Kayak sekarang ini contohnya, waktu ulang tahun gue yang ke 21 tinggal satu bulan lagi. Krisis itu lagi-lagi menyerang gue. Gue terkena syndrom. Pra 21 syndrom. Kalo tahun kemaren gue ngalamin pra 20 syndrom yang lumayan akut, kali ini ternyata lebih parah lagi. Jadi inget kata Zhe kalo makin tambah umur, kehidupan makin kerasa kompleks.

jadi inget Zhe pembicaraan gue dan Zhe lewat telepon tahun lalu, waktu itu Zhe lagi di PAris dan dia sengaja telepon gue selama 3 jam cuma untuk menasehati gue panjang lebar:

“Siapa siy yang bilang lo getting 20 with nothing, sen? Cuma orang sinting yang bisa b’pendapat kayak gitu. Come on, look at yourself! Lo itu talent promising banget, coba deh lo tanya temen2 lo, mereka pasti bakalan mikir lo bakal menjadi orang yang sangat sukses dalam waktu kurang dari 10 tahun yang akan datang, 5 tahun malahan. Lo pinter, lo b’bakat, hidup lo penuh dengan rencana, dan lo berambisi. Apalagi siy yang lo cari? Udahlah, sen! NGgak usah worry b’lebihan kayak gitu deh. NGgak suka, ah!”

“…”

“Dengerin gue, Sen! Lo itu mampu jadi apa pun yang lo mau! Lo… mampu!”

Tadi siang, Zhe menasehati gue hal yang nyaris sama. Mengingatkan gue kalo gue adalah seseorang yang talent promising, mengingatkan gue dengan semua rencana-rencana yang udah gue susun rapi dan bakalan membawa gue pada gerbang kesuksesan nantinya. Mengingatkan gue kalo gue mampu jadi apa pun yang gue mau.

Pertanyaan yang sama lagi-lagi diajukan tahun ini.

Apakah gue mampu menjadi apa yang gue mau?

Am I?

Arrggghhh… why this syndrom always attack me, God?? Why?

Suster Senny In Charge

17 Sep

Cun, harusnya lo berterima kasih sama gue yang bersedia bangun tengah malam cuma buat beliin lo es krim di Circle K yang ternyata kalo ditempuh dengan jalan kaki dari tempat lo lumayan jauh dan bikin capek karena jalannya yang nanjak.

Cun, harusnya lo berterima kasih sama gue yang rela nggak tidur semaleman cuma buat nemenin lo, jagain lo in case lo kenapa-kenapa dan panik setengah mampus karena panas badannya naik lagi dan bikin gue berasa kayak di neraka.

Cun, harusnya lo berterima kasih sama gue karena gue adalah satu-satunya manusia yang rela memberikan waktunya 24/7 cuma buat lo padahal kadang (atau sering?) waktu yang lo minta kurang ajar dan nggak penting banget.

Cun, harusnya lo berterima kasih sama gue karena setiap kali lo sakit gue selalu menjadi Suster Senny In Charge buat lo.

Cun, harusnya lo berterima kasih sama gue karena demi lo gue ngebela-belain nggak jadi ke Jakarta. Cuma demi lo, gue bahkan bakalan teteup pergi ke Jakarta kalo ada badai menghadang sekali pun.

Cun, harusnya lo berterima kasih sama gue karena gue… karena gue adalah gue… orang yang selalu ada buat lo for better or worse dan gue serius waktu gue bilang gue bakalan selalu ada untuk lo, buktinya… yah lo taulah saat2 kita selalu bersama dalam susah maupun senang.

Tapi…

Gue juga harusnya berterima kasih sama lo karena lo udah jadi suster gue waktu gue sakit kemarin.

Gue juga harusnya berterima kasih sama lo karena lo selalu ada kapan pun gue butuh temen buat cerita tentang segala hal bahkan sampai ke intimate detail tentang gue.

Gue juga harusnya berterima kasih sama lo karena lo satu-satunya orang yang bisa mengerti dan tahu semua masalah dalam hidup gue secara keseluruhan. Satu-satunya orang yang nyimpen rahasia-rahasia terbesar dalam hidup gue yang nggak boleh orang tahu.

Gue juga harusnya berterima kasih sama lo untuk tumpangan yang lo kasih secara cuma-cuma, mulai dari tumpangan tidur, tumpangan kendaraan, dan segala hal yang bisa ditumpangi.

Gue juga harusnya berterima kasih sama lo untuk semua yang udah lo kasih buat gue.

Gue juga harusnya berterima masih sama lo karena lo adalah lo… teman gue yang paling baik dan selalu ada buat gue for better or worse.

Karena persahabatan kita bakalan berlangsung selama-lamanya…