Archive | July, 2008

So Deep

31 Jul

Kalo kalian adalah pembaca blog gue mulai dari waktu gue masih nge-blog di blog spot, pastinya kalian bakalan pernah baca tulisan gue di bawah ini. Dulu, waktu gue nulis ini… gue sama sekali nggak tahu apa yang ada di pikiran gue dan sekarang… dalam keadaan sangat krisis otak, gue beneran kembali merasakan hal ini:

People might think that i am strong enough,
never knew what im feelin’ inside

People might say that they do care about me,
I just smile and said:
‘just wait and see’

People thought that I’m a very cheerful person
No, I’m quite introvert – too introvert till no one know what was wrong

But I’m not regret to have it all
Coz I know what inside them
In the end people only think about themselves

someone…
Who I do care about
Who I love much were hurted me
And were successfully broke me to pieces

They never knew what i’ve done
I was sacrifice enough
Too much…

But in the end…
All i have to feel is broken hearted
I thought I was strong enough to feel this way
Then I found out that it is more hurted than before
Till I think that I can’t feel it any longer

And again… don’t asked me why cause I really have no idea about it. I really don’t know why and what’s wrong with me. All I know is I feel so deeply hurt…

DAMN!

Grey Area

31 Jul

Do you know that black and white has a grey?

When there’s no pure black neither pure white…

When right could be so wrong and wrong could be so right…

And now I feels like I’m in a grey area…

So confusing…

DAMN!

Gamang

30 Jul

Bingung mau nulis apa…

Lagi krisis otak juga…

Cuma mau kasih tahu kalian aja kalau gue lagi gamang… tapi kali ini gamangnya dalam hal yang baik, bukan gamang yang biasa terjadi kalo gue lagi dalam posisi nggak banget…

Belakangan ini banyak banget yang terjadi sama gue… Kejutan yang benar-benar jauh dari rencana gue…

Speechless…

Tapi jangan tanya apaan karena gue nggak bakalan kasih tahu siapa pun dan biarkanlah ini menjadi rahasia Tuhan, gue dan Selly yang sok sibuk itu huhuhuhu…

Ternyata…

22 Jul

Tadinya judulnya mau begini: Om-Om Genit Yang Ternyata Nggak Berperut Buncit, Bermata Sipit, dan Hidungnya NGgak Belang Sama Sekali

Tapi kamu tahu ‘kan kenapa akhirnya gue nggak posting dengan judul seperti itu? Kepanjangan, cing! Bisa-bisa orang-orang udah pada keburu capek baca judulnya sebelum baca isinya.

Anyway…, setelah sekian lama nggak posting di blog karena gue lagi sibuk menjadi organizer pesta kawinan temen gue dan (akhirnya) baikan juga sama Zhe setelah 3 harian ngambek, gue mau posting dengan masalah rutin yang sering banget gue alami mengenai pelecehan se*sual.

Ugh…, padahal sumpahnya gue nggak pernah jalan-jalan pake celana pendek, apalagi rok pendek. Gue juga nggak suka dandan menor-menor kayak cewek-cewek Bandung kebanyakan. Tapi… kenapa gue sering banget dilecehkan sama om-om nggak jelas??

Contoh kejadiannya kayak…

Suatu sore di O la la Dago, gue bersama seorang temen yang nggak jelas lagi nunggu seorang teman yang sama nggak jelasnya. Waktu itu gue nggak pake yang aneh-aneh kok. Cuma jaket dengan sleting tertutup, celana jeans panjang, dan sepatu keds. Nggak pake make up karena gue baru aja balik fitness tapi lalu si mas-mas O La La datang bawa selembar tisu dan bilang ada pesan dari meja yang nggak jauh dari tempat gue duduk. Mas-mas itu jelas banget bilang kalo pesannya buat gue, bukan buat temen gue yang nggak jelas. Dengan setengah hati gue baca tuh tisu yang isinya:

“Hai, kenalan dong! Tn. R 0811xxxxx”

Dan gue dengan bodohnya melirik si Tn. R itu dan dia jelas-jelas menatap gue dengan tatapan mesum seolah-olah ngajak gue tidur. Busyet dah, tuh om-om nggak tahu diri emang! MEndingan kalo ganteng, ini sih… meskipun emang perutnya nggak buncit dan matanya nggak sipit tapi tuh om jauuuuh banget dari standarisasi ganteng di negara mana pun.

Atau ada lagi…

Waktu gue lagi nungguin Zhe yang lagi meeting di hotel. Gue nungguin Zhe sendirian di lobby hotel sambil internetan. Nggak ada tampang-tampang kalo gue ini cewek binal yang lagi mangkal nungguin om-om ngajakin ngamar, yang ada tampang manusia cantik dan intelek huehehe… tapi terus ada om-om yang kali ini lumayan ganteng dan berperawakan tinggi besar nyamperin gue dan lalu terjadilah sebuah percakapan…

Om-om laknat: “Kerja di sini?” (dengan penekanan pada kata kerja yang jelas banget mengartikan bukan benar-benar kerja di sini tapi mangkal di sini)

Gue: “Nggak!” (Berusaha untuk cuek padahal jantung gue berasa udah mau meledak)

Om-om sial: “Jadi nggak kerja di sini?” (Ngelihat gue dengan tatapan yang jelas banget nggak percaya sama jawaban gue)

Gue: “Nggak!” (mulai ngerasa nyesel kenapa harus nunggu Zhe di sini, bukannya di tempat laen yang bagusan dikit)

Om-om jahanam: “Terus lagi ngapain di sini?”

GUe: (Zhe…, gue bunuh lo habis ini! “Nungguin temen lagi ada meeting di sini.”

Om-om bajingan: (ekspresinya terlihat sumringah begitu dia bilang gue lagi nungguin temen gue yang meeting di sini)

GUe: (meralat dengan cepat karena jawaban itu membuat gue nampak seperti germo) “Maksudnya dia lagi ada meeting sama klien dari Jakarta. Temen saya itu punya butik, sekarang lagi ada di ruang meeting..” (suara gue terdengar ngambang)

Om-om: “Oh! Ya udah, om tinggal dulu ya!” (Masih dengan ekspresi ngajak tidur yang pernah gue lihat sebelumnya)

Kampret!

Belum selesai nih…

Waktu gue lagi nungguin seorang temen yang entah kenapa nggak mau masukin mobilnya ke parkiran PVJ dan akhirnya memaksa gue untuk nungguin di depan PVJ. Untungnya ada temen jadi at least gue nggak sendirian banget. Lagi asyik-asyik nunggu sambil memaki karena sang penjemput lama banget, ada om-om yang lagi-lagi nggak berperut buncit, bermata sipit, dan hidungnya nggak belang membuka kaca jendela mobilnya lalu ngedadahin gue dengan gerakan tangan yang lebih tepat buat ngajak gue masuk daripada ngedadahin. Dan parahnya lagi, temen gue yang nggak bantu itu malah bilang…

“Temen lo, Sen?”

U see that?!

Gimana gue nggak hipertensi?! Dari sekian banyak kalimat yang LAYAK dibilangin waktu gue sedang marah, kesal, dongkol, dan lain sebagainya akibat dilecehkan, temen gue malah memilih kalimat sialan kayak gitu ditambah dengan tawa ngeledek waktu gue bilang dia sama sekali bukan temen gue dan masa iya gue temenan sama om-om ganjen kayak gitu…

Ugh… so tragic!

Eh ya, sebenernya masih banyak lagi siy kejadian nggak banget seputaran pelecehan yang gue alami yang gue yakin banget kalo dibukuin bakalan jadi lebih tebel daripada bukunya Harry Potter karena di dalamnya mengandung unsur makian-makian gue huehehe…

Ah sudahlah, mari kita think positive dan ambil moral of the story-nya, yaitu…

  1. Pelecehan se*ksual tidak selalu terjadi pada tipe artis seperti DP yang emang bahasa tubuhnya minta dilecehkan, tapi juga bisa terjadi pada siapa saja, termasuk gue… wanita cantik, pintar, intelek paling oke sejagad raya huehehe…
  2. Jangan pernah menunggu untuk alasan apa pun karena setelah dipikir-pikir kejadian sialan kayak gitu selalu gue alami di saat gue menunggu.
  3. Last but not least…, please deh om! Inget umur… buruan tobat… Gue rasa kalian (baca: para om-om laknat yang sama sekali nggak berperut buncit, bermata sipit, dan berhidung belang) untuk bisa tahan di kasur lebih dari lima menit aja perlu dopping edan-edanan… masa iya masih berani-beraninya ngajakin wanita segar dan muda belia seperti gue meranjang…

P.S. Dulu gue selalu berpikir kalo om-om gatel yang disebut hidung belang itu berperut buncit dan bermata sipit tapi ternyata gue salah… huehehe… Ternyata nggak semua om berperut buncit dan bermata sipit itu om-om ganjen…

Murka

7 Jul

Gue nggak tahu apa yang terjadi sama gue belakangan ini. Satu-satunya hal yang gue tahu adalah gue mendadak menjadi manusia yang sensitive, emosi gue yang udah mulai stabil balik lagi jadi impulsive, dan semua yang ada di sekitar gue-apa yang gue lihat, denger, atau rasain dicerna negatif habis-habisan oleh otak gue.

Dan mood gue yang nggak banget itu dengan sukses membuat gue murka, Zhe murka, dan akhirnya kita berantem.

Semuanya dimulai dari…

GUe dan Zhe janjian di Coffee BEan BSM. Tadinya gue udah nolak acara ketemuan kali ini, mengingat mood gue yang berantakan nggak memungkinkan diajak keluar tapi Zhe terus maksa dan dia bilang ada proyek iklan yang harus gue kerjain untuk butiknya.

Jadi… karena duit dan Zhe adalah sahabat terbaik gue, akhirnya gue memutuskan untuk pergi dengan setengah hati dan berharap dengan sangat nggak bakalan ada satu kejadian pun yang bikin emosi gue kembali memuncak.

Terus gue datang… as usual… mengingat gue adalah makhluk paling on time sejagad raya… gue datang sekitar 15 minutes earlier dan mengingat kebiasaan Zhe yang suka ngaret, maka gue wajar banget kalo begitu gue datang, penampakan makhluk laknat sialan itu sama sekali belum ada.

Gue telpon dia, nggak diangkat. Akhirnya gue memutuskan untuk nunggu, kesel banget karena Zhe maksa banget buat gue datang on time tapi dianya malah ngaret.

Terus gue nunggu dia… Oh ya, sejak mood gue kembali fluktuatif, kebiasaan merokok gue yang udah mulai hilang balik lagi jadi… ditemani dengan caramel latte dan Dunhil Menthol, gue nunggu Zhe.

15 menit….

30 menit…

50 menit…

1 jam…

Gue udah mulai hipertensi. Hp Zhe masih nggak diangkat. Percuma punya 2 hp kalo ditelponin nggak diangkat. Gue mulai menyumpah serapah di dalam hati. Binatang-binatang kesayangan gue mulai keluar, ada babi, monyet, cumi, biyawak, anjing, dan binatang-binatang lainnya yang kalo dikumpulin cukup untuk bikin satu kebun binatang yang lebih gede dari Ragunan.

1 jam lewat beberapa menit, tepat di saat gue memutuskan untuk balik aja, Zhe baru datang. Dengan cueknya dia menyedot minuman gue tanpa permisi. Gue mendelik jutek, berharap dia tahu kalo gue beneran marah dengan keterlambatannya kali ini. Hasilnya? Percuma karena Zhe malah dengan cueknya merampok Dunhil Menthol gue dan memulai ocehan nggak mutunya tentang kenapa gue merokok lagi dan betapa rokok nggak baik untuk dijadiin pelarian (numpang tanya ya, mbak… selama ini siapa yang lebih parah ngerokoknya?!).

GUe masih mencoba buat sabar, tapi nggak bisa dan akhirnya… Zhe sukses membuat gue murka. Yup, gue murka… sangat murka. Gue dengan nada datar tapi kalimat tajam khas gue kalo lagi marah, sukses menyinggung Zhe. Dan akhirnya kita berdebat. Sempat jadi perhatian om-om yang duduk nggak jauh dari kita tapi gue nggak peduli.

As a normal relationship, gue sama Zhe emang seringkali berdebat atau berantem. Tapi kali ini adalah pertengkaran kita yang paling parah. Sampai akhirnya Zhe dengan gaya aristokrat khasnya meninggalkan gue sendirian di Coffee Bean. Meninggalkan gue bukan dengan kata ‘bye’ atau something yang wajar diomongin sebagai tanda perpisahan melainkan…

“gue nggak ngerti apa yang terjadi sama lo tapi yang jelas mendingan lo selesaiin urusan lo dulu deh sampai akhirnya kita bisa ketemu lagi!'”

Sekarang… 2 hari sejak pertengkaran itu…

Gue dan Zhe masih belum juga ada contact. Padahal biasanya kalo kita berantem, paling lama juga satu jam.

Bingung…

Mau minta maaf tapi gengsi.

Berharap Zhe minta maaf duluan juga nampaknya bakalan lama mengingat Zhe punya level gengsi yang sama tingginya sama gue.

Sebenernya Zhe bener banget siy. Gue nggak seharusnya jadiin keterlambatan dia sebagai objek kemarahan terpendam gue dan harusnya gue nggak sekeras itu sama Zhe.

Arrrggghhh…

DAMN!

I miss her so bad!