Trademark

16 May

Kemarin teman gue bercerita kalau akhir minggu kemarin dia menjadi korban diskriminasi identitas. Masalah kecil siy. Jadi waktu akhir minggu kemarin, dia mengantri sangat panjang untuk memasuki sebuah club malam, padahal waktu itu dia sudah reservasi tempat. Tapi… tiba-tiba saja antrian panjang itu terpotong, diserobot oleh orang yang datang tiba-tiba dan tanpa ada reservasi terlebih dahulu. Belakangan, teman gue ini baru tahu kalo sang penyerobot itu adalah anak seorang anggota DPR.

BUat temen gue, ini bukan cuma sekedar masalah sepele tapi sudah menyangkut masalah sosial yang nggak bisa dibiarkan.

Dari cerita teman gue itu, gue jadi kepikiran kalau kita… yang cuma manusia biasa yang seringkali khilaf dan jauh dari kata ideal ini emang sering banget memberikan level playing field yang nggak seimbang untuk orang lain. Biasanya, meskipun tidak selalu… kita menilai seorang manusia itu sebagai sebuah produk yang sudah ditempeli ‘trademark’ tertentu, bukan sebuah produsen yang menghasilkan ‘trademark’ itu sendiri.

Namanya juga manusia, wajar banget kalau mereka cenderung lebih beranggapan ‘produk’ dengan identitas yang lebih baik memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan ‘produk’ dengan identitas yang kurang baik atau setidaknya berada di kelas identitas bawahnya.

Dari situ imajinasi gue membawa gue ke dalam sebuah pasar identitas, dimana satu-satunya komoditas yang diperjualbelikan adalah identitas. Ya, kita-di luar kesadaran kita, sudah mengubah dunia nyata yang sangat reaslistis ini menjadi sebuah tempat jual beli identitas, dimana seorang ‘produk’ dengan ‘trademark’ yang baik bisa membeli jauh lebih banyak dan mendapatkan privilege yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan seorang ‘produk’ dengan ‘trademark’ yang berada di level bawah.

Seharusnya siy yang terjadi nggak kayak gitu, karena menurut yang gue baca di Kompas edisi 3 Mei 2007 dalam sebuah kolom yang berjudul Sang Nasi Dalam Politik Identitas yang ditulis Seno GUmira Ajidarma:‘Identitas adalah suatu produksi, bukan suatu esensi yang tetap dan menetap. Dengan begitu identitas selalu berproses, selalu membentuk di dalam-bukan di luar-representasi. Ini juga berarti otoritas dan keaslian identitas dalam konsep “identitas kultural” misalnya, berada dalam masalah. Identitas hanya bisa ditandai dalam perbedaan sebagai suatu bentuk representasi dalam sistem simbolik maupun sosial, untuk melihat diri sendiri tidak seperti yang lain’.

Tapi itu ‘kan penilaian yang seharusnya… yang etis… Pada akhirnya, kita semua harus dihadapkan dengan realita. Dan realita yang (sialnya) harus kita hadapi adalah, politik identitas; diskriminasi identitas; dan pasar identitas selalu ada di sekitar kita… tidak pernah beranjak (bahkan) sedikit pun.

Dan sekarang yang sedang gue lakukan adalah memainkan peran gue sebaik mungkin. Melakukan politik identitas, berusaha untuk tidak melakukan diskriminasi identitas, dan berusaha menjadi penjual dan pembeli identitas yang baik supaya… gue bisa mencapai identitas yang mapan, menjadi seorang produk yang valuable, dan tidak menjadi korban diskriminasi identitas seperti temen gue itu….

9 Responses to “Trademark”

  1. Petra Barus May 16, 2008 at 5:33 am #

    Yah sabar aja toh, mbak ^_^

  2. indra1082 May 16, 2008 at 7:55 am #

    YUUP….
    Tim Uber sudah memastikan masuk FINAL,
    Mari kita dukung sampai jadi juara
    TIM THOMAS…. Jangan Mau Ketinggalan!!!

  3. Jane May 16, 2008 at 7:28 pm #

    Hmm.. iya sih yah.. bener juga.. aku juga ngerasa dimana” emang hal” yang kayak gitu selalu terjadi😦 kadang bukan cuma liatnya orang biasa atau anak pejabat, tapi gender juga sering jadi masalah.. iya gak? hmm.. gimana yah.. kayaknya emang udah tertanam di benak masyarakat awam kalo yang berkedudukan tuh jadi priority gitu.. yang susah cara ngerubahnya.. walaupun kita gak setuju kadang buat nyadarin orang lain tuh susah.. hehe

    anyway.. kamu aku link yah? thx loh dah visit” my home.. hehe..

  4. macangadungan May 18, 2008 at 12:16 pm #

    hai… hehheh… lama ga blogwalking. kangen sama dunia maya…
    pada dasarnya manusia emang produk dan identitas adalah salah satu aspek yang mempengaruhi brand manusia sbg produk..
    tp emang eneg bgt klo sampe cm gara2 cap anak anggota DPR, atau anak Artis… seseorang mnjd dihargai.. padahal mungkin secara kepribadian sbenernya mrk nothing… ga punya kelebihan apa2…

    mudah2an gw ga akan mnjd org yg sperti itu..

  5. ichanx May 18, 2008 at 4:38 pm #

    beuuhhh… baru anak DPR aja udah belagu… kebayang kalo nanti dia jadi anggota DPR, bakal lebih sok2an deh… LAWAN!!! HANCURKAN SEGALA MACAM DISKRIMINASI!!! HIDUP PERSIB!!! (loh?)

  6. bodhi May 19, 2008 at 4:10 pm #

    what the?

    sejak kapan lu bahas ginian?

  7. rime May 21, 2008 at 10:35 am #

    iya.. kenapa ya orang2 itu atas nama identitasnya lalu menganggap lebih berhak mendapatkan sesuatu dibanding “manusia biasa saja”

    saya jadi ingat kejadian di kampus saya, ketika sudah tidak ada lagi yang namanya SP (semester pendek), lalu tiba2 tahun 2005 diadakan kembali dengan alasan tertentu… padahal sebenarnya adalah gara2 anak rektor nilainya jelek dan butuh SP…

    pantes ya, orang-orang pada semangat jadi pejabat… jadi rektor, jadi anggota DPR, jadi presiden.. karena ternyata “rejekinya” nyiprat ke anggota keluarga -_-

  8. anima May 22, 2008 at 8:00 am #

    senada sama bodhi, wow this is.. tough to read😀

  9. mysterio June 1, 2008 at 4:40 am #

    postingan berat niy bu.. heuheu
    emang sih kadang anak2 orang kaya tuh suka seenaknya, biasa di-tetek-in dari kecil sih, jadinya ga punya toleransi sama yang lain.

    waktu kecil lu netek ga?😀 heuheuheu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: