Dear God
Dear God,
Would you mind to makes things right, now?
Cause I swear, I can’t take it anymore
Please holding back my tears here, God.
Dear God,
Would you mind to makes things right, now?
Cause I swear, I can’t take it anymore
Please holding back my tears here, God.
I have been running so sweaty my whole life
Urgent for a finish line
And I have been missing the rapture this whole time of being forever incomplete
Kemarin, waktu acara nongkrong dahsyat saya sama Didit di J.Co PVJ, saya melihat seorang cewek abg yang gayanya selangit bawa-bawa anjing yang meskipun saya nggak pernah punya pengetahuan tentang nama-nama anjing, saya yakin banget harga anjing itu pasti mahal banget.
Tepat di depan Sushi Groove dan nggak jauh dari pandangan mata saya (halah), si anjing berhenti dan ternyata dia (maaf) buang air besar. Yup, buang air besar di depan sushi groove. Sungguh anjing yang nggak punya etika. Lah, saya aja kalau sendawa di depan orang yang lagi makan bisa digantung sama mama saya, ini anjing enak banget buang air besar di depan tempat makan. Eh tapi dia ‘kan anjing yah bukan manusia?
Nah, yang bikin saya merasa terganggu justru bukan etika si anjing karena yah namanya juga anjing jadi wajar kalau dia nggak beretika, tapi etika si empunya anjing. Yes, I’m talking about this abg-dengan-gaya-selangitnya-itu.
Saya tahu kok kalau di PVJ emang mengizinkan binatang peliharaan masuk ke wilayah mall-nya, tapi harusnya sang pembawa binatang peliharaan ini juga sadar dong dengan konsekuensinya. Nah, menurut saya, salah satu konsekuensi membawa binatang peliharaan jalan-jalan adalah dengan repot juga membawa litter box in case sewaktu-waktu dia buang air besar jadi bisa langsung dievakuasi dan nggak memakan korban.
Lah ini, sang empunya anjing mahal, si abg dengan gaya selangit itu, maen jalan aja gitu. Berasa nggak ada kejadian apa-apa. Dan akhirnya tergeletak gitu ajalah si barang bukti di depan Sushi Groove. Iyah, biar saya ulangi saudara-saudara: ada (maaf) tai di depan TEMPAT MAKAN di sebuah mall sekelas PVJ.
WTF??!
Dari situ saya jadi merasa ironis sekali. Masa seseorang yang mampu membeli anjing semahal itu nggak mampu untuk menyekolahkan dirinya supaya punya pemikiran dan etika yang nggak kalah mahalnya dibandingkan harga anjingnya itu.
And the thing is: gimana bisa sang empunya anjing yang masih abg dan gayanya selangit ini mendidik anjingnya dengan baik untuk setidaknya memiliki etika kehewanan, sementara dia sendiri cacat etika.
Argghh…, gue cuma mau mengeluh… ngga ditanggapi juga ngga apa-apa… ngga didengar juga ngga apa-apa… Gue cuma mau mengeluarkan semua kekesalan gue…
And here is… daftar keluhan gue seminggu ini:
Minggu ini sangat melelahkan buat gue. NGgak cuma secara fisik tapi juga emosi. Friksi-friksi dalam hidup ditambah pms membuat segalanya terasa sangat sulit dan melelahkan. Tapi kali ini gue berjanji untuk nggak terlalu banyak mengeluh, berhenti mempertanyakan, dan menjalani semuanya dengan ikhlas.
Karena mengutip kalimat seoarang teman, kita tidak hidup di dunia maya dimana kita bisa meremove orang-orang yang tidak kita sukai, menshuffle hal-hal yang tidak kita inginkan, berbicara sesuatu lalu menghapusnya kembali, atau melakukan begitu banyak hal yang kita sukai tanpa harus merisaukan apa pendapat orang.
Karena kita hidup di dunia nyata dimana terkadang (atau malah sering?) kita diharuskan untuk bersosialisasi dengan orang yang tidak kita mau, menjalani hal-hal yang tidak kita inginkan, tidak bisa meralat apa yang telah kita ucapkan meskipun maksud sebenarnya tidak tertangkap dengan baik oleh sang lawan bicara, dan melakukan begitu banyak hal untuk menyenangkan orang lain.
Karena gue percaya, kalo kita tidak pernah merasa sedih, bagaimana bisa kita menghargai perasaan senang.
Karena gue percaya bahwa hidup adalah rangkaian perjalanan dimana apa yang kita lakukan hari ini akan memberikan pengaruh dalam hidup kita ke depannya sekecil apa pun pengaruh itu.
Karena gue percaya ujian ini datang untuk mendewasakan, menguatkan, dan mengangkat BUKAN membunuh, menghancurkan, dan menjatuhkan.
Maka kali ini gue akan menjalani semuanya dengan senyum.
Kalau gue sudah pernah melewati masa terburuk dalam hidup gue, maka yang kali ini pun gue pasti bisa melewatinya… PASTI!
Tuhan…
Kenapa kamu terus mengujiku meski aku sudah merasa lelah, sakit, terluka, gamang, dan bahkan putus asa.
TUhan…
Aku yakin Kamu Maha Tahu, jadi seharusnya kamu tahu kalau aku sudah sampai batasku, batas dimana aku merasa nggak lagi bisa menghadap[i semua ini.
TUhan…
Katakan padaku kenapa Kamu lebih memilih aku untuk melewati semua ini. Aku nggak cukup kuat untuk melewati semua ini. Aku bahkan nggak cukup kuat untuk hanya sekedar membayangkan semua ini.
Tuhan…
Aku tahu mungkin aku belum cukup dewasa, tapi kenapa kamu pilihkan jalan ini untuk proses pendewasaan diriku? Kenapa kamu lebih memilih mendewasakanku dengan masalah dan masalah lagi, bukan dengan waktu?
TUhan…
Maafkan karena aku mengeluh. Aku mengeluh terlalu banyak tapi bersyukur terlalu sedikit. Aku nggak bermaksud menghakimi. Aku nggak bermaksud marah padaMu.
Aku cuma ingin Kamu tahu (meskipun aku yakin tanpa mengeluhpun Kamu sudah tahu) semua yang kurasakan akhir-akhir ini. Aku cuma ingin mempertanyakan semuanya, karena pada akhirnya yang tersisa dari semua ini hanyalah rasa sakit dan pertanyaan-pertanyaan besar.
Recent Comments