H.E.L.P!

September 23, 2009

Anyone… you guys, can you help me?

I start to hate things called L.O.V.E.

Seriously! Melebihi keseriusan saya yang ingin memiliki badan Bree Turner yang akhirnya membuat saya (sepertinya akan) mengeluarkan banyak uang untuk membeli krim anti selulit dan mengikuti kursus salsa atau melebihi keseriusan saya yang benar-benar ingin menjadi penari striptease at least untuk laki saya suatu saat nanti.

Akhir-akhir ini saya mulai melihat betapa L.O.V.E. atau yang biasa orang Indonesia sebut cinta, memberikan pengaruh yang begitu besar kepada begitu banyak orang. Sayangnya, dalam kasus saya, saya melihat pengaruh tersebut cenderung lebih ke arah yang buruk daripada yang baik. Saya melihat itu, bukan hanya terjadi pada diri saya, tapi juga pada teman-teman di kehidupan saya.

Saya mulai menangkap gejala bahwa L.O.V.E. atau cinta sudah melenceng dari makna yang sebenarnya (meski saya tidak pernah tahu pasti apa makna yang sebenarnya dari cinta). Akhir-akhir ini saya mulai berpikir bahwa cinta sebenarnya hanyalah sebuah alasan, pembenaran, pembelaan, sebuah excuse untuk banyak orang untuk tetap berada di jalan yang salah bahkan ketika mereka menyadari dengan sepenuh hati bahwa mereka berada di jalan yang salah. They know that they’re in the wrong track but they’re still stick on it in the name of love.

And that was just… sounds stupid and silly for me.

But anyway,

We can’t be smart and in love at the same time, right?

Perlu bukti? Pernah dengar tentang orang yang rela membunuh dirinya sendiri setelah diputusin oleh pacarnya yang sebenarnya tidak pernah benar-benar cinta? Atau orang yang rela membagi password facebooknya pada sang pacar yang ternyata psikopat dan mulai nekad mengupload foto ciuman mereka berdua yang diambil entah kapan dan oleh siapa ketika hubungan mereka dalam masalah? Atau orang yang memutuskan untuk stay single dan melewatkan begitu banyak calon pasangan potensial cuma demi menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkan orang itu sama sekali? Dan tentunya, masih banyak contoh kebodohan karena cinta lainnya yang nggak akan pernah cukup waktu sejuta tahun untuk membahasnya di postingan ini.

Dari beberapa contoh yang terjadi di lingkungan sekitar saya, saya berani menyimpulkan bahwa cinta selalu berhasil mengambil logika manusia dengan cara yang manipulatif.

Dari situlah lantas muncul istilah love for sex dan sex for love. Karena faktanya, beberapa orang memanipulasi keadaaan, bertingkah seolah-olah dia memberikan cinta yang tulus dan dalam, untuk mendapatkan sex; sementara di sisi lain, beberapa orang memanipulasi keadaan, bertingkah seolah-olah dia memberikan sex dengan suka rela, untuk mendapatkan cinta. Seorang teman malah berkata bahwa pilihannya memang ada dua, love for sex or sex for love; the one who doesn’t choose will get nothing.

Tapi yang menurut saya paling parah adalah saya melihat telah terjadi perubahan yang cukup signifikan pada teman-teman saya, dan semua itu terjadi gara-gara cinta. Yup, cinta telah merubah teman-teman saya (dan mungkin banyak orang lain di luaran sana) dengan cara yang sangat instan dan (seringnya) tidak bisa dimengerti.

Teman saya yang dulunya anti selingkuh, mendadak bersedia menjadi selingkuhan seseorang yang sudah bertunangan dan tidak akan pernah meninggalkan tunangannya.

Teman saya yang dulunya career minded dan bersumpah akan menjadi penari seumur hidupnya, mendadak meninggalkan karirnya sebagai penari hanya karena sang pacar tidak menyetujui pilihan karir teman saya yang katanya membuat teman saya seperti wanita gampangan.

Teman saya yang dulunya rajin menabung demi masa depan, mendadak menjadi seseorang yang sangat boros dan mulai sering meminjam uang sana-sini hanya untuk membiayai seluruh pengeluaran nggak jelas dan nggak penting sang pacar.

Teman saya yang penurut pada orang tuanya, mendadak memutuskan untuk meninggalkan rumah, berbohong pada orang tuanya, dan bahkan melawan orang tuanya, hanya demi membela sang pacar begajulan yang tidak mendapat restu dari sang orang tua.

Bahkan, teman saya yang dulunya religius, membuat sebuah keputusan yang sangat mengejutkan saya, mengumumkan dengan bangga bahwa dia telah pindah agama hanya demi mendapat restu dari orang tua sang pacar yang belum tentu juga akan bersedia menikahi teman saya.

Dalam pandangan saya, sama sekali tidak masalah kalau kalian melakukan hal-hal seperti: melawan orang tua, kabur dari rumah, berbohong, mengkhianati, pindah agama, membuang-buang banyak uang, meninggalkan karir yang juga sebenarnya sudah menjadi mimpi sejak dulu, atau hal lainnya yang tidak logis selama

Apa yang kalian lakukan dalam cara yang salah tersebut adalah sebuah proses untuk mencapai tujuan yang benar,

Tapi yang menjadi masalah buat saya adalah:

darimana kalian tahu bahwa kalian telah memilih tujuan yang benar sementara dalam prosesnya saja kalian telah melakukan hal yang salah?

apakah ada jaminan bahwa kalian tidak akan pernah menyesali keputusan kalian yang sudah tanggung melakukan hal yang salah, berada di jalan yang salah?

apakah kalian benar-benar berada pada tujuan yang benar?

Guys, do you??

Talk About Sex

December 1, 2008

There’s only 3 things about sex:

  1. Some guys good in missionary
  2. The others good in WOT
  3. The rest don’t know how to sex

Huehehe… bersambung ah! TAdinya postinganny mau panjang tapi keburu lupa apa yang mau diposting huaahahahaha… ;)