Perkara Kaus

November 19, 2009

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menawarkan saya untuk membuat customize shirt dengan harga yang didiskon 50% khusus untuk saya. Saya yang seorang impulsive buyer sejati tentunya sangat tertarik dengan tawarannya tersebut, sampai akhirnya teman saya itu bertanya mengenai slogan apa yang ingin saya cetak di kaus tersebut.

Beberapa dari kamu mungkin akan berpikir bahwa ini hanyalah sebuah kaus, lalu memasang slogan apa pun yang ada di pikiran kalian pertama kali, tapi buat saya, ini bukan hanya sekedar kaus. It’s not just a shirt, it’s about self labeling.

Lebay? Mungkin juga sih, tapi beberapa hari sebelumnya (eh apa beberapa minggu sebelumnya yah?) saya melalui pengalaman mencela customize shirt.

Jadi waktu itu saya sedang ngopi-ngopi cantik dengan seorang sahabat di sebuah mall yang lumayan happening di Bandung (sok gaul!). Di tengah-tengah obrolan rada serius kami mengenai pekerjaan, konsentrasi saya terganggu dengan kehadiran seorang anak laki-laki memakai kaus bertuliskan “Ganteng Seperti Ayahnya”.

Saya: “Bok, lo lihat deh anak itu?”

Dia: “Ih bokapnya pede banget ya?”

Saya: “Bapaknya yang narsis, anaknya yang jadi korban.”

Dia: “Kalo gue punya anak jangan sampai deh dikasih baju yang begituan, kayak nggak ada baju lain yang lebih bagus aja desainnya.”

Okay, saya tahu pembicaraan tersebut terdengar judgmental, tapi yang ingin saya sampaikan di sini adalah: untuk beberapa orang (seperti saya dan sahabat saya misalnya), desain sebuah kaus turut berperan aktif dalam menentukan kesan apa yang ingin disampaikan oleh si pemakai kaus tersebut.

Jadi ketika pikiran pertama saya jatuh pada slogan “Natural Born Bitch”, maka saya langsung membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Pertama, karena saya tidak yakin bahwa saya seorang natural born bitch, saya hanya seorang perempuan yang sangat suka mempergunakan kelebihannya sebagai perempuan untuk mendapatkan beberapa kemudahan dalam hidup (seperti guess list dan free flow di sebuah club waktu saya masih muda, labil, dan gaul). Kedua, kalaupun saya memang seorang natural born bitch, saya tidak bangga sama sekali akan hal tersebut.

Slogan selanjutnya yang ada di pikiran saya adalah “Not Single But Available”. Lagi-lagi ide tersebut harus ditolak mentah-mentah mengingat konsekuensi yang (mungkin) akan saya terima setelah memakai kaus tersebut.

Setelah itu muncul berbagai jenis slogan dalam pikiran saya, slogan yang saya pikir akan menjadi lucu atau bagus untuk desain sebuah kaus, tapi pada akhirnya slogan tersebut berakhir pada kategori trash karena tidak ada satu pun slogan yang cukup bagus untuk saya pakai atau sangat merepresentasikan diri saya.

Perkara kaus tersebut membuat saya jadi berpikir jangan-jangan selama ini saya tidak benar-benar mengenali diri saya. Buktinya, untuk membuat sebuah slogan di kaus yang akan saya kenakan dan melabeli diri saya saja, saya kebingungan. Dan kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Saya langsung dilanda galau resah tak berarah karenanya, menguatkan image saya yang seorang drama queen ini.

Kemarin, seorang teman memberi ide untuk memasang slogan “Pelacur Ide” di kaus saya. Ide yang menurut saya sangat brilian karena (ugh, hate to say this) saya memang seorang pelacur ide yang sibuk membuat ide ini dan itu, tapi selalu berhenti pada tahap mengenali ide dan tidak pernah sukses memperkosa ide tersebut. Hey, pekerjaan saya kan memang membuat ide! (excuse)

Pelacur ide memang sebuah slogan yang sangat merepresentasikan diri saya sih, tapi lagi-lagi ide brilian teman saya itu saya masukan ke dalam kategori trash. Alasannya adalah karena saya sama sekali tidak bangga menjadi seorang pelacur ide dan saya sangat percaya bahwa apa yang kamu tulis adalah doa, dan saya tentu tidak senaif itu mendoakan diri saya untuk selamanya menjadi pelacur ide.

So guys, ada ide slogan apa yang sebaiknya saya pasang di kaus saya?

And if you were me, what kind of slogan you would like to put on your shirt?


Thought At The Bucks

November 1, 2009

Beberapa hari yang lalu, when I was having a grande Frapuccino Hazelnut at Starbucks, saya melihat beberapa orang anak SMA sedang mengobrol. Mengingat Starbucks tempat yang lumayan sepi dan kebiasaan anak-anak SMA untuk mengobrol dengan suara keras, saya tentu bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Salah satu dari mereka akan mengikuti lomba pidato tapi merasa tidak percaya diri, sementara teman-teman yang lainnya berusaha menyemangati.

Mendengarkan obrolan mereka, pikiran saya teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SMP. Dulu, saya adalah tipikal orang yang sangat minder. Jangankan tampil di depan orang-orang yang tidak dikenal, untuk mengatakan sesuatu di depan kelas aja saya nyaris tidak bisa melakukannya. Sampai pada satu hari sekolah saya menyatakan bahwa akan mengirimkan satu kandidatnya untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris dengan tema: drugs prevention.

Tidak ada seorang pun yang merelakan dirinya untuk mengikuti lomba tersebut, yang ada satu sama lain malah saling menunjuk. Sampai akhirnya seorang teman meminta saya untuk menyusun naskahnya dan dia yang akan membacakannya. Sebenarnya waktu itu saya merasa sedikit enggan. Pertama, saya tidak yakin saya bisa menulis pidato dalam bahasa Inggris. Kedua, tanpa alasan yang jelas perasaan saya tidak enak. Tapi, paksaan teman saya akhirnya membuat saya membuatkan naskah pidato.

Tapi kamu tahu apa yang terjadi pada hari perlombaan?

Teman saya bohong. Dia memasukkan nama saya sebagai kandidat dan mau tidak mau saya harus membacakan naskah di depan umum. Waktu itu saya benar-benar merasa ditipu habis-habisan. Saya merasa sangat marah, tapi ketegangan yang muncul ke permukaan jauh melebihi rasa marah saya. Akhirnya mau tidak mau saya harus maju ke depan, membacakan naskah pidato bahasa Inggris saya di depan umum. Tempat perlombaan saat itu panas, tapi saya justru merasa sangat kedinginan.

Saya tidak yakin dengan cara saya berpidato waktu itu, yang saya pikirkan hanyalah bagaimana saya berusaha sebaik mungkin menutupi ketegangan saya, tetap membacakan naskah pidato tersebut secepat mungkin, lalu turun dari panggung dan bersikap seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi sebelumnya (meskipun hati kecil saya sangat ingin menghadiahi teman saya itu sebuah bogem mentah).

Dan jangan tanya apa saya bisa melakukan semua itu dengan baik, karena sejujurnya saya sama sekali tidak tahu apa pun. Satu-satunya yang saya tahu adalah saya menjadi juara dua, sebuah prestasi yang membanggakan dan jauh di luar perkiraan saya.

Sejak saat itu saya mulai berusaha membuka diri saya, meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki kemampuan, dan melatih rasa percaya diri saya. Saya juga melatih beberapa kemampuan berbicara di depan umum saya, mempertajam kemampuan bahasa Inggris saya, dan memperluas pengetahuan umum saya.

Sore itu, waktu saya menguping obrolan anak-anak SMA itu, saya bertanya-tanya:

Apakah saya akan berada di posisi sekarang ini jika waktu itu saya tidak terpaksa mengikuti lomba tersebut?

Apa yang akan terjadi seandainya waktu itu hak saya untuk diam tidak diperkosa oleh teman-teman saya atau setidaknya waktu itu saya tidak tinggal diam ketika saya merasa hak saya untuk diam diperkosa oleh teman-teman saya?

Tapi ya…

tidak peduli seberapa besar energi yang terkuras untuk mempertanyakan hal tersebut, saya tidak akan pernah benar-benar menemukan jawabannya.

After all I’ve been blessed

22 Random Thought

October 27, 2009

1. Bumi menua. Saya menua. Kamu menua. Semua yang ada di dunia ini menua. Sebuah fakta yang menyenangkan hati saya dan berhasil mengobati kegundahan hati saya akhir-akhir ini karena fakta tersebut memuat keadilan di dalamnya.
2. Kadang saya berusaha terlalu keras untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Begitu kerasnya usaha saya sampai-sampai usaha tersebut bukannya membuat saya menjadi manusia yang lebih baik, tetapi malah menjadikan saya sebagai manusia ambisius yang tenggelam dalam kehidupan maya yang sama sekali tidak logis.
3. Teh atau kopi. Pulang atau lanjut ‘jalan’. Celana jeans atau celana pendek. Tshirt atau kemeja. Hidup saya selalu dipenuhi oleh pilihan-pilihan, mulai dari yang termudah hingga yang tersulit. Saya baru menyadari bahwa yang terpenting bukanlah memilih keputusan yang memiliki resiko terkecil di masa yang akan datang, melainkan pilihan yang akan mendewasakan diri saya dari pengalaman yang saya peroleh sebagai konsekuensi atas pilihan tersebut.
4. Saya masih suka hujan. Bagi saya, hujan bukan hanya sebuah fenomena alam, tapi juga memuat begitu banyak filosofi di dalamnya.
5. Seringnya teman-teman saya menganggap saya sombong karena kebiasaan saya menghilang dari dunia pergaulan, sementara fakta yang terjadi adalah setiap kali saya menghilang, saya pasti sedang mengalami masalah yang cukup berat dan tidak mungkin diceritakan oleh siapa pun. Sayangnya, mereka tidak pernah mau mendengarkan alasan saya setiap kali saya kembali dari dunia autistik saya dan telah berhasil menyelesaikan masalah saya dan kembali menata hidup saya. Kali ini saya hanya ingin kalian semua tahu bahwa dalam setiap prilaku manusia, terdapat makna di baliknya dan… setiap orang memiliki hak untuk menghilang.
6. Pada dasarnya semua orang itu tercipta sama, memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tidak pernah ada satu orang pun yang lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.
7. Saya selalu kagum dengan mama. Di balik segala kelembutannya, dia adalah wanita terkuat di dunia, setidaknya dalam mata saya (dan saya tidak sedang menganalogikan wanita terkuat sebagai nyonya meneer yang berdiri dari tahun kapan tahu gitu). Sering kali dalam hidup saya, saya menyesali keputusan saya yang membangkang ucapan mama, tapi saya cuma ingin mama tahu bahwa saya akan selalu berusaha untuk membanggakannya. Mama dan segala kekuatan di balik kelembutannya adalah sebuah role model yang membuat saya selalu kuat menghadapi apa pun yang terjadi dalam hidup saya. Mama adalah alasan saya setiap kali saya bangun pagi dan mencari alasan untuk tetap hidup di dunia ini.
8. Ketakutan terbesar saya adalah kehilangan atau ditinggalkan orang yang saya cintai, meskipun saya sangat menyadari fakta bahwa semua orang akan mengalami fase meninggalkan dan ditinggalkan.
9. Saya masih merasa jauh lebih cantik ketika mengenakan Tshirt, celana jeans, dan sepatu kets dibandingkan dengan pakaian wanita pada umumnya.
10. Aura yang kita bawa bersifat menular. Maka usahakan untuk tidak membawa aura negatif ketika bertemu dengan siapa pun. Pastikan ketika kita memutuskan untuk keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang-orang, aura yang kita bawa adalah aura positif.
11. Mengutip pernyataan seorang teman yang ateis, “untuk apa kita beragama kalau faktanya kita masih saling menyakiti satu sama lain?”
12. For a million hearts that open, a million break (Lukas by Natalie Imbruglia)
13. There were time I refuse to grow up
14. Twitter, facebook, dan blog adalah beberapa dari sekian banyak alasan yang membuat saya merasa bahagia menjalani hidup ini.
15. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa dalam kehidupan sehari-hari saya cenderung memakai topeng, karena tempat saya untuk bisa benar-benar jujur dan mengungkapkan semua yang ada di pikiran saya hanyalah di sini… di blog ini.
16. Saya sering mengunjungi Starbucks bukan karena saya benar-benar menyukai kopinya (karena saya pernah menemukan kopi yang jauh lebih enak dengan harga yang jauh lebih murah), tapi karena saya sangat menikmati menjadi seorang kapitalis.
17. Saya masih terobsesi menari striptease dan akan mewujudkan obsesi saya itu suatu saat nanti. Nanti… ketika saya sudah memiliki suami tentunya.
18. Beberapa orang peramal pernah mengatakan pada saya bahwa saya memiliki tendensi untuk menikah dua kali. Pertama kali saya mendengarkan ramalan itu, saya tertawa, bagaimana bisa saya yang (sempat) tidak mempercayai pernikahan bisa menikah sebanyak dua kali. Tapi lalu belakangan ramalan tersebut malah membuat saya takut.
19. Saya ingin menjadi dewasa, mapan, dan matang ketika saya menginjak 30 tahun. Pada umur 30 tahun saya benar-benar ingin menjadi ’seseorang’ di mata seseorang.
20. Ada begitu banyak hal yang orang-orang tahu tentang saya, tapi mereka tidak pernah tahu (setidaknya sampai hari ini) bahwa saya sangat benci dengan orang-orang yang berkata kasar dan tidak pernah bisa menerima perlakuan kasar dari siapa pun dan untuk alasan apa pun.
21. Meskipun hidup berjalan terus setiap detiknya, tapi saya percaya bahwa terkadang hidup perlu dijalani tanpa harus mencari makna di dalamnya. Bukan untuk menyia-nyiakan masa yang telah Tuhan berikan, tapi untuk membiarkan diri kita sekali saja menikmati hidup yang tidak bermakna.
22. Seseorang yang pintar adalah seseorang yang bisa mengatakan semua yang ada di pikirannya dengan cara yang halus tanpa menyakiti hati sang lawan bicaranya.
Umur saya resmi 22 tahun dan ada 22 random things yang muncul dalam pikiran saya. Saya sangat percaya bahwa angka 2 selalu memberikan keberuntungan bagi saya, seperti nomor urut 2 dalam presentasi project saya yang cukup besar dan berhasil goal. Angka 22 adalah angka 2 yang diulang sebanyak 2 kali, semoga keberuntungan yang saya terima berlipat ganda. Dan semoga… bukan hanya saya yang diberkahi dalam hidup ini, tapi juga kamu-para manusia yang dengan setia mendampingi hidup saya di kala susah maupun senang.
Semoga penambahan usia dan pengurangan masa hidup ini menjadikan saya sebagai manusia yang lebih baik lagi.

1. Bumi menua. Saya menua. Kamu menua. Semua yang ada di dunia ini menua. Sebuah fakta yang menyenangkan hati saya dan berhasil mengobati kegundahan hati saya akhir-akhir ini karena fakta tersebut memuat keadilan di dalamnya.

2. Kadang saya berusaha terlalu keras untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Begitu kerasnya usaha saya sampai-sampai usaha tersebut bukannya membuat saya menjadi manusia yang lebih baik, tetapi malah menjadikan saya sebagai manusia ambisius yang tenggelam dalam kehidupan maya yang sama sekali tidak logis.

3. Teh atau kopi. Pulang atau lanjut ‘jalan’. Celana jeans atau celana pendek. Tshirt atau kemeja. Hidup saya selalu dipenuhi oleh pilihan-pilihan, mulai dari yang termudah hingga yang tersulit. Saya baru menyadari bahwa yang terpenting bukanlah memilih keputusan yang memiliki resiko terkecil di masa yang akan datang, melainkan pilihan yang akan mendewasakan diri saya dari pengalaman yang saya peroleh sebagai konsekuensi atas pilihan tersebut.

4. Saya masih suka hujan. Bagi saya, hujan bukan hanya sebuah fenomena alam, tapi juga memuat begitu banyak filosofi di dalamnya.

5. Seringnya teman-teman saya menganggap saya sombong karena kebiasaan saya menghilang dari dunia pergaulan, sementara fakta yang terjadi adalah setiap kali saya menghilang, saya pasti sedang mengalami masalah yang cukup berat dan tidak mungkin diceritakan oleh siapa pun. Sayangnya, mereka tidak pernah mau mendengarkan alasan saya setiap kali saya kembali dari dunia autistik saya dan telah berhasil menyelesaikan masalah saya dan kembali menata hidup saya. Kali ini saya hanya ingin kalian semua tahu bahwa dalam setiap prilaku manusia, terdapat makna di baliknya dan… setiap orang memiliki hak untuk menghilang.

6. Pada dasarnya semua orang itu tercipta sama, memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tidak pernah ada satu orang pun yang lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.

7. Saya selalu kagum dengan mama. Di balik segala kelembutannya, dia adalah wanita terkuat di dunia, setidaknya dalam mata saya (dan saya tidak sedang menganalogikan wanita terkuat sebagai nyonya meneer yang berdiri dari tahun kapan tahu gitu). Sering kali dalam hidup saya, saya menyesali keputusan saya yang membangkang ucapan mama, tapi saya cuma ingin mama tahu bahwa saya akan selalu berusaha untuk membanggakannya. Mama dan segala kekuatan di balik kelembutannya adalah sebuah role model yang membuat saya selalu kuat menghadapi apa pun yang terjadi dalam hidup saya. Mama adalah alasan saya setiap kali saya bangun pagi dan mencari alasan untuk tetap hidup di dunia ini.

8. Ketakutan terbesar saya adalah kehilangan atau ditinggalkan orang yang saya cintai, meskipun saya sangat menyadari fakta bahwa semua orang akan mengalami fase meninggalkan dan ditinggalkan.

9. Saya masih merasa jauh lebih cantik ketika mengenakan Tshirt, celana jeans, dan sepatu kets dibandingkan dengan pakaian wanita pada umumnya.

10. Aura yang kita bawa bersifat menular. Maka usahakan untuk tidak membawa aura negatif ketika bertemu dengan siapa pun. Pastikan ketika kita memutuskan untuk keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang-orang, aura yang kita bawa adalah aura positif.

11. Mengutip pernyataan seorang teman yang ateis: “untuk apa kita beragama kalau faktanya kita masih saling menyakiti satu sama lain?”

12. For a million hearts that open, a million break (Lukas by Natalie Imbruglia)

13. There were time I refuse to grow up

14. Twitter, facebook, dan blog adalah beberapa dari sekian banyak alasan yang membuat saya merasa bahagia menjalani hidup ini.

15. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa dalam kehidupan sehari-hari saya cenderung memakai topeng, karena tempat saya untuk bisa benar-benar jujur dan mengungkapkan semua yang ada di pikiran saya hanyalah di sini… di blog ini.

16. Saya sering mengunjungi Starbucks bukan karena saya benar-benar menyukai kopinya (karena saya pernah menemukan kopi yang jauh lebih enak dengan harga yang jauh lebih murah), tapi karena saya sangat menikmati menjadi seorang kapitalis.

17. Saya masih terobsesi menari striptease dan akan mewujudkan obsesi saya itu suatu saat nanti. Nanti… ketika saya sudah memiliki suami tentunya.

18. Beberapa orang peramal pernah mengatakan pada saya bahwa saya memiliki tendensi untuk menikah dua kali. Pertama kali saya mendengarkan ramalan itu, saya tertawa, bagaimana bisa saya yang (sempat) tidak mempercayai pernikahan bisa menikah sebanyak dua kali. Tapi lalu belakangan ramalan tersebut malah membuat saya takut.

19. Saya ingin menjadi dewasa, mapan, dan matang ketika saya menginjak 30 tahun. Pada umur 30 tahun saya benar-benar ingin menjadi ’seseorang’ di mata seseorang.

20. Ada begitu banyak hal yang orang-orang tahu tentang saya, tapi mereka tidak pernah tahu (setidaknya sampai hari ini) bahwa saya sangat benci dengan orang-orang yang berkata kasar dan tidak pernah bisa menerima perlakuan kasar dari siapa pun dan untuk alasan apa pun.

21. Meskipun hidup berjalan terus setiap detiknya, tapi saya percaya bahwa terkadang hidup perlu dijalani tanpa harus mencari makna di dalamnya. Bukan untuk menyia-nyiakan masa yang telah Tuhan berikan, tapi untuk membiarkan diri kita sekali saja menikmati hidup yang tidak bermakna.

22. Seseorang yang pintar adalah seseorang yang bisa mengatakan semua yang ada di pikirannya dengan cara yang halus tanpa menyakiti hati sang lawan bicaranya.

Umur saya resmi 22 tahun dan ada 22 random things yang muncul dalam pikiran saya. Saya sangat percaya bahwa angka 2 selalu memberikan keberuntungan bagi saya, seperti nomor urut 2 dalam presentasi project saya yang cukup besar dan berhasil goal. Angka 22 adalah angka 2 yang diulang sebanyak 2 kali, semoga keberuntungan yang saya terima berlipat ganda. Dan semoga… bukan hanya saya yang diberkahi dalam hidup ini, tapi juga kamu-para manusia yang dengan setia mendampingi hidup saya di kala susah maupun senang.

Semoga pertambahan usia dan pengurangan masa hidup ini menjadikan saya sebagai manusia yang lebih baik lagi.

What Do They Know

October 25, 2009

Dua hari lagi menjelang ulang tahun saya dan sebuah pikiran melintas kuat di benak saya hari ini. Pernyataan seorang teman saya kembali menampar saya pada sebuah realita. Dalam sebuah pembicaraan ditemani beberapa cangkir kopi dan hujan deras di Bandung suatu sore, seorang teman baik berkata:

“Kenapa kita harus worry dengan apa yang orang pikirkan tentang kita, sementara faktanya adalah mereka tidak tahu apa pun tentang kita?”

Saya lupa pastinya apa yang memicu teman saya mengeluarkan pernyataan seperti itu saat itu, tapi saya tahu dengan pasti bahwa setelah dia berbicara seperti itu, pikiran saya langsung berjalan. Kopi, hujan, dan pernyataan menampar dari teman saya memang kombinasi yang bagus untuk membuat saya (atau siapa pun juga) untuk berpikir.

Hari ini pemikiran itu kembali muncul. Setelah beberapa minggu ini saya menghabiskan waktu dan energi saya lebih banyak untuk memikirkan hal-hal yang tidak begitu penting untuk dipikirkan. Setelah beberapa minggu ini saya membiarkan pekerjaan saya selesai secara tidak optimal karena saya baru menyelesaikannya menjelang deadline, ditambah dengan skripsi dan laporan magang yang terbengkalai begitu saja.

Akhirnya pemikiran itu muncul: what do they know about me? why should I worry about that?. Dua pertanyaan besar itu terus menerus berputar dalam pikiran saya, membuat saya yang terpaksa menghentikan kegiatan belajar untuk UTS saya besok.

Kamu tahu? Salah satu alasan saya menjadi sangat khawatir akan masa depan saya, mengalami pra 22 syndrome adalah karena saya mengkhawatirkan apa yang orang pikirkan tentang saya, karena ketika saya mengetahui bahwa mereka berpikir sesuatu tentang saya tidak seperti apa yang saya ingin mereka untuk pikirkan, saya lalu bertanya-tanya apa yang salah dengan saya.

Memangnya apa yang mereka tahu tentang saya?

Apa yang mereka tahu tentang saya ketika mereka melihat saya sedang duduk sendirian di sebuah coffee shop yang ramai pengunjung, tanpa ipod atau apa pun sebagai teman saya? Memangnya mereka tahu apa waktu mereka berpikir saya tidak punya banyak teman atau sedang patah hati dan menatap saya dengan tatapan kasihan, sementara faktanya adalah waktu itu saya memang lebih memilih untuk sendirian dibandingkan menerima ajakan teman-teman saya untuk nonton, makan bareng, atau sekedar nongkrong-nongkrong nggak jelas?

Apa yang mereka tahu tentang saya ketika saya memutuskan untuk berjalan dibandingkan naik kendaraan ketika hari sudah malam dan gerimis mulai turun? Memangnya apa yang mereka tahu waktu mereka berpikir saya ini nekad atau kehabisan uang, sementara yang terjadi adalah saya memang memutuskan untuk berjalan karena pada waktu itu saya membutuhkan banyak ruang dan waktu untuk berpikir mengenai konsep yang harus saya kerjakan supaya saya tetap bertahan pada pekerjaan saya dan tidak dipecat?

Memangnya apa yang mereka tahu waktu mereka menilai saya sombong dan tidak bersahabat, sementara fakta yang terjadi adalah saya sejak kecil memang didiagnosa memiliki kesulitan kemampuan berkomunikasi dan saya minder ketika berhadapan dengan orang-orang baru atau pun orang-orang yang tidak saya kenal dengan baik?

Memangnya apa yang mereka tahu waktu saya memutuskan untuk mengganti profile picture facebook saya? Apa yang mereka tahu waktu mereka berpikir bahwa lelaki di sebelah saya itu adalah pacar saya, sementara faktanya adalah saya merasa saat ini satu-satunya sahabat lelaki yang saya punya hanya dia?

Apa yang mereka tahu tentang semua itu? Apa yang mereka tahu tentang apa yang ada di pikiran saya? Apa yang mereka tahu tentang… saya?

Lalu saya menemukan jawaban bahwa mereka sama sekali tidak tahu tentang saya.

Terus kenapa saya harus worry pada mereka yang lebih memilih untuk berpikir tentang saya berdasarkan apa yang mereka ingin pikirkan tentang saya bukan mencoba untuk bertanya pada saya tentang apa yang terjadi dan lalu berpikir berdasarkan kenyataan yang ada?

Kenapa juga saya harus bersusah payah untuk bersikap sesuai apa yang mereka inginkan agar mereka bisa berpikir tentang saya sesuai dengan keinginan saya, sementara fakta yang terjadi adalah saya (dan siapa pun juga tidak bisa memaksakan pemikiran orang lain?

Dan ya… saya memang impulsif sejati. Detik ini saya bertekad untuk berhenti mengkhawatirkan apa yang orang pikirkan tentang saya karena saya tidak mau lagi peduli tentang itu.

Terserah selanjutnya apa yang akan orang lain pikirkan tentang saya ketika saya memutuskan untuk menutup telinga saya rapat-rapat untuk pemikiran-pemikiran mereka yang tidak pernah benar-benar mengenal saya karena faktanya adalah saya yakin hidup saya akan jauh lebih bahagia tanpa harus memikirkan apa yang orang pikirkan tentang saya, karena saya ingin membuang jauh-jauh pikiran bahwa saya membutuhkan Prozac, psikolog, atau bahkan psikiater untuk mengobati gangguan mental saya yang sering tertekan, karena jika mereka benar-benar teman maka mereka tidak akan sibuk dengan autistik pemikiran mereka dan lebih memilih untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena saya… tidak mau lagi memaksakan pikiran orang lain tentang saya.

People always act like they know everything but the fact is: they know NOTHING.

Shopping All The Way Out

October 19, 2009

Salah satu favorite quotes saya adalah quotes dari Bo Derek yang bunyinya:

Whoever said money can’t buy happines simply didn’t know where to go shopping

Jadi, di saat menjelang ulang tahun ke 22 saya yang makin hari makin membuat saya merasa worry soal masa depan saya, di saat suasana kerja dan kuliah semakin menjenuhkan karena terlalu banyak dipadati oleh rutinitas yang seakan-akan menguras tenaga saya, di saat sepertinya teman-teman saya sudah mulai sibuk dengan dunianya masing-masing, maka yang saya lakukan adalah belanja.

Dan inilah isi shopping bag saya bulan ini:

  1. Belt dari LM for hardware (gambar menyusul berhubung kamera low bat kalo nggak lupa itu juga)
  2. Sepatu buat kado mama. Ulang tahunnya siy masih ntar Rabu, tapi berhubung saya orang yang sangat tidak sabaran dan pasti ketahuan juga siy kalau disembunyiin, jadi kado itu langsung dikasih begitu sampai rumah. P.S. Mom, kalo ga suka modelnya itu ade yang milih yah! hehe
  3. Food… Food… Food… Don’t you know that I’m so in love with great food? Well, I am! Belakangan ini di Bandung banyak bermunculan kafe baru dan akhirnya saya terpaksa (terpaksa tapi kok senang yah?) menghabiskan banyak uang saya untuk mencoba makanan di kafe-kafe tersebut.
  4. Album Come To LIfe – Natalie Imbruglia. Sumpah yah, waktu saya dengar isi album ini, saya langsung merasa si jeng Natalie ini lagi ngobrol sama saya aja gitu, satu album isinya selalu sukses bikin saya berkata: “damn! ini siy gue banget!”.

come to life by Natalie ImbrugliaDan masih banyak lagi barang-barang belanjaan lainnya yang saya beli sebagai hasil dari keimpulsifan saya. Kalau begini terus, curiga butuh usaha keras untuk jadi kaya