With You
October 4, 2009
Harusnya siy berdasarkan aturan posting yang saya buat sendiri, pamali hukumnya bikin posting sekaligus dua di blog yang sama pada hari yang sama. Tapi berhubung saya lagi beneran cerita dan saya sendiri yang bikin aturannya, maka kali ini saya bikin pengecualian.
Tapi yah, terserah deh setelah posting ini kalian mau menganggap saya norak, dangkal, cheesy, atau mengejek saya dengan kata apa pun, saya nggak peduli. Silakan gunakan hak mencela saya sebaik mungkin, terima kasih!
By the way, basa-basinya kepanjangan yah?
Ok, so let’s go back to the topic!
Selalu ada masa di kehidupan saya, dimana saya berharap kalau pun waktu tidak bisa dihentikan, setidaknya waktu bisa berjalan lebih lambat dari biasanya. Seperti apa yang saya alami malam itu.
Saya selalu suka menghabiskan waktu dengannya untuk berwisata kuliner, konser dengan suara pas-pasan di Inul Vizta yang sebenarnya membanting harga diri karena satu-satunya lagu yang berskor 100 adalah lagu-lagunya Bening, lalu pada akhirnya menghabiskan waktu untuk mencari es krim sambil mengobrol tentang banyak hal. Saya selalu jatuh cinta dengan kebebasan yang diberikannya pada saya, kebebasan untuk bersikap atau berkata tanpa harus ada penyesalan di kemudian hari akibat penghakiman yang mungkin timbul setelahnya, karena faktanya dia sama sekali tidak pernah menghakimi saya bahkan ketika saya salah mengambil sikap.
Saya selalu senang akan setiap waktu yang saya habiskan dengannya.
Seperti waktu itu, di sebuah restoran 24 jam dengan suasana outdoor di daerah Dago – Bandung malam hari itu. Waktu saya sebenarnya sudah kehabisan energi akibat paginya berhadapan dengan si bos, siangnya berkeliaran sendirian akibat janji yang sangat mendadak dibatalkan, lalu sorenya menghabiskan waktu di sebuah toko yang juga restoran di daerah Dago untuk halalbilhalal dengan teman-teman blogger saya.
Waktu itu, saya yang sebenarnya sudah setengah jalan pulang memutuskan untuk kembali ke Dago dan menemuinya untuk sekedar mengobrol dan menghabiskan sisa malam akhir minggu kami dengan mengobrol tentang banyak hal, mulai dari bitching about those shit that currently happen into our lives, sampai dengan gosip soal orang-orang di sekitar kita.
Lalu malam itu semakin saya nikmati ketika akhirnya pembicaraan tertuju pada hal yang selalu mengundang ketertarikan saya. Di luar kesadaran, setiap kali berbicara soal hal-hal yang membuat saya tertarik, saya mengungkapkan pendapat atau berbicara dalam jangka waktu yang cukup panjang, tapi… jangankan memotong ucapan saya, dia bahkan sama sekali tidak terlihat bosan mendengarkan ucapan saya sampai akhirnya…
“Sen…”
“Ya?”
“Mata lo kayak kristal.”
“Ha? Ada beleknya maksud lo?”
“Bukan! You’re glowing, Sen. You’re always glowing everytime we’re talk about this or another stuff that you like.”
“Define glowing, please!”
“Well, gue tahu banget lo ngga bego untuk ngerti definisi glowing tapi biar gue jelasin. Glowoing itu adalah aura yang keluar jelas dari muka lo yang bikin..”
“Bikin apaan?”
“Duh, gue nggak harusnya ngomong gini, tapi setiap kali lo glowing, gue yakin banget every guy… every normal guy would love to kiss your lips. With that glow-look in your face, how could a guy not fall for you?”
“Gue baru tahu segitu betenya lo hari ini sampei-sampei lo kesambet. Kesambet apaan lo?”
“Seriously, you’re so hot, you know that?”
Dan waktu saya melihat ekspresinya mengatakan kalimat itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan pertemanan kami yang berlangsung hampir 8 tahun, saya merasa jantung saya berdegup sangat kencang ketika melihatnya. Detik itu juga saya merasa dengan saya memiliki dia, semuanya menjadi cukup dalam hidup saya.
Detik selanjutnya, saya mulai mempertanyakan apakah benar-benar tidak ada apa-apa antara saya dan dia karena faktanya: saat ini saya sedang merasa ada sesuatu, sebuah chemistry yang sangat kuat antara saya dan dia, sesuatu yang telah disangka oleh mereka yang mengenal saya, dia, atau kami dalam satu paket sejak bertahun-tahun yang lalu. And the thing is:
I really don’t care if world around me goes wrong as long as I have him in my life
Thank God I’m Not The Only One
October 4, 2009
“I’m worry about my future… I really do!”
Itu status facebook salah seorang teman saya. Perlu waktu beberapa detik untuk saya berpikir sampai akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan komentar:
“Why you should worry about it? You have your plan but God own the masterplan. Just take the step!”
Sebenarnya ketika saya meninggalkan komentar yang canggih itu *okay, yang mau nimpuk tolong antri, saya tidak hanya berbicara kepada teman saya itu, tapi juga berbicara pada diri saya sendiri. Karena, terus terang, waktu saya membaca status itu (atau bahkan sampai sekarang?), saya juga merasakan hal yang sama seperti teman saya itu. Sama-sama mengkhawatirkan tentang masa depan.
Padahal kalo boleh saya sedikit membahas tentang teman saya itu, secara kasat mata, dia tidak mungkin mengalami kegagalan dalam masa depannya. Dia cantik, kepribadiannya menarik, pernah masuk dalam nominasi sebuah model sebuah produk kecantikan, baru lulus dari universitas (atau institut?) negeri kenamaan di Bandung, sedang membangun usaha sebuah butik, dan punya pacar yang tidak kalah potensial. See, saya tidak melebih-lebihkan lho.
Jadi kalau orang seperti teman saya saja bisa mengkhawatirkan soal masa depannya, apa kabarnya dengan orang seperti saya?
Semakin mendekati ulang tahun saya yang ke 22, saya semakin merasa takut dan khawatir akan masa depan saya. Saya sudah punya standardisasi soal tingkat kesuksesan dalam hidup saya, saya juga sudah punya rencana apa yang harus saya lakukan, tapi tetap saja hal seperti itu tidak membantu saya untuk berhenti mengkhawatirkan soal masa depan saya. Meskipun saya juga yakin sepenuh hati kalau Tuhan juga punya rencana untuk saya, dan Tuhan lebih tahu yang terbaik buat saya, dibandingkan saya sendiri.
Saya yakin, setidaknya satu kali dalam hidup seseorang, mereka pernah merasakan kekhawatiran akan masa depannya. Hasil dari pembicaraan tengah malam dengan seorang teman membuat saya menyimpulkan bahwa beberapa dari mereka yang mengkhawatirkan masa depannya tidak melakukan apa-apa untuk mengatasinya itu dan hanya menjadikan kekhawatiran itu sebagai sebuah reaksi akan kesuksesan orang lain, bukan sebagai sebuah batu loncatan untuk mulai melakukan tindakan membangun masa depan; beberapanya lagi terlalu terbuai dengan hambatan yang mungkin dihadapi dalam proses membangun masa depan sehingga lupa untuk bertindak; sementara sisanya, mulai bertindak dan berusaha sebaik mungkin untuk meraih masa depan sesuai yang diimpikannya.
Saya, tidak mau termasuk dalam kategori orang yang beberapa. Saya ingin masuk ke dalam kategori sisanya. Maka, saya mulai memantapkan langkah saya, mengambil tindakan dari mulai hal yang kecil demi meraih tujuan itu… tujuan untuk menjadi lebih baik lagi dalam segala aspek kehidupan dalam hidup saya.
Maka saya mulai lagi berolahraga secara rutin, berhasil memaksa seorang teman untuk mengajari saya salsa secara cuma-cuma, mencoba minum susu – WRP Body Shape (padahal dari umur 3 atau empat tahun saya tidak menyukai susu yang diseduh dan cuma mau minum ultra atau produk sejenisnya), mengeluarkan cukup banyak uang untuk membeli beberapa produk kosmetik dan meminta teman yang juga pelatih salsa saya untuk mengajarkan saya tata cara make up yang baik dan benar, membaca lebih banyak buku dari segala jenis; mulai dari chicklit hingga kumpulan jurnal canggihnya Idi Subandy Ibrahim, mengatur pola tidur supaya tidak terlalu malam sehingga saya tidak akan malas ketika adzan shubuh memanggil saya untuk menghadapNya, mendekatkan diri saya dengan Tuhan (setelah bertahun-tahun saya memeluk agama Islam KTP), bertemu dengan lebih banyak orang; mulai dari teman lama hingga mencari teman baru sehingga pikiran saya lebih terbuka, dan… argh, terlalu banyak untuk disebutkan.
Tapi yang jelas, saat ini saya sedang berusaha… benar-benar berusaha untuk masa depan saya. Saya tidak mau lagi menjadi orang yang terlalu banyak mengeluh dan menuntut tentang kehidupan saya kepada Tuhan. Saya hanya ingin menjadi orang yang ikhlas menerima apa pun yang Tuhan berikan pada saya. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri tapi dengan fitur tambahan lebih baik dalam segala aspek kehidupan saya.
Dan saya ingin meminta doa dari kamu semua semoga semuanya berjalan lancar
Saya akui, sindrom pra 22 ini memang lumayan menganggu aktivitas dan prilaku saya, terutama pola pikir saya terhadap hidup dan masa depan saya, tapi untuk tahun ini saya memutuskan untuk tidak menyerah dan berbuat sesuatu untuk mengatasi itu.
Suatu Sore Di Starbucks
July 13, 2009
Suatu sore di Starbucks. Berada di tempat itu selalu mengundang senyum saya. Suatu kejadian yang takkan pernah bisa terhapus dari ruang memori saya telah terjadi di tempat itu, lalu peristiwa itu terekam dalam dokumentasi hidup saya.
Sore hari itu di Starbucks, hujan turun, membuat saya terpaksa berteduh di tempat itu… sendirian. Secara tidak sengaja, saya menemukan teman lama saya di situ. Dia sendiri. Saya sendiri. Kami pun lalu duduk di meja yang sama dan mulai larut dalam segelas kopi dan obrolan nggak penting yang menekan tombol flash back dalam otak saya.
Sore itu di Starbucks, saya sangat ingin menghentikan putaran waktu. Reuni dadakan ini terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja, membuat saya sangat ingin berkompromi dengan waktu. Sayangnya, waktu tidak pernah bisa diajak kompromi. Saya harus pergi, mengejar sebuah pertemuan urusan kerjaan yang tidak bisa diundur-undur, bahkan untuk suatu event berharga seperti reuni dadakan ini.
Saya lalu berpamitan dan pada saat itulah teman saya protes. Dia berkata bahwa saya selalu terlihat terburu-buru dan tidak menikmati waktu, kalimat terakhirnya adalah:
“Everytime I see you, you’ re always in a hurry.”
Saya sebenarnya merasa keberatan dengan pandangannya mengenai saya yang selalu terlihat terburu-buru dan tidak menikmati waktu, karena sebenarnya saya bukan tipe orang yang seperti itu, hanya saja kondisi saya ketika bertemu dengannya selalu saja dalam keadaan sedang terburu-buru mengejar sesuatu. Tapi bukannya saya membantah kalimatnya, saya hanya berkata:
“Kita ini lagi di jalan tol Bandung menuju Jakarta. Mobil yang dipae sama, kemampuan menyetir sama, dan kecepatan mengendarai sama. Logikanya, kita sampai di Jakarta dalam waktu yang sama, tapi di tengah perjalanan, lo tergoda untuk mampir di tempat peristirahatan dan beli minum, sementara gue memutuskan untuk tetap jalan, padahal gue juga haus banget. In the end, lo sampai lima menit lebih lama dari gue, tapi waktu gue sampai di jakarta dan mendapatkan 1 milyar, lo cuma mendapatkan setengah dari apa yang gue dapatkan. Intinya adalah, gue mungkin trkesan terlalu serius, terburu-buru, dan tidak menikmati hidup. Tapi itu semua gue lakukan karena gue ngga mau buang-buang waktu gue dan membiarkan keterlambatan gue mengurangi optimalisasi pencapaian tujuan hidup gue. Gue mungkin telah melewatkan banyak hal dalam hidup ini, begitu banyak kesenangan yang gue lewatkan begitu saja, tapi gue tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu gue di depan.”
Sore itu di Starbucks, saya nggak pernah tahu apa yang membuat saya mengatakan hal seperti itu. Saya nggak tahu dan nggak akan pernah tahu darimana kalimat itu muncul ke permukaan. Satu-satunya yang saya tahu adalah ekspresi wajahnya menyiratkan sesuatu.
Menit selanjutnya adalah dia memeluk saya, lalu mencium pipi kiri dan kanan saya, dan membisikkan suatu kalimat yang sebaiknya hanya diketahui saya, dia, dan Tuhan saja.
Pesan terakhirnya adalah: “Sampai ketemu di Jakarta, ya!”
Saya mengangguk dan tersenyum. Mengetahui bahwa pesan terakhirnya itu bukanlah suatu janji pertemuan di Jakarta, melainkan suatu janji pertemuan di titik akhir pencapaian tujuan. Pesan terakhirnya adalah kalimat berharga (bagi saya) yang membuat suatu sore di Starbucks menjadi kejadian yang lebih berarti dan selalu sukses mengundang senyum saya setiap kali saya berada di Starbucks.
Sore itu di Starbucks mungkin telah berakhir dan berlalu begitu cepat, tapi saya tahu, suatu saat nanti saya akan kembali bertemu dengannya.
Jadi…, sampai ketemu di Jakarta, ya!
Me And My Friends
May 21, 2009
Setelah kemarin gue melewati masa kritis yang membuat gue terisolasi karena mood gue lagi norak, lagi kampungan buat diajak bersosialisasi, belakangan ini justru jadwal gue penuh dengan pertemuan dengan teman-teman.
Teman-teman yang selalu gue sebut dengan AMAZING FRIENDS.Disebut amazing karena so far… merekalah yang selalu ada buat gue. Ada waktu gue lagi banyak duit maupun waktu gue lagi miskin banget. Ada waktu gue lagi seneng banget maupun waktu gue sedih banget. Ada dalam segala masa, mood, situasi, dan kondisi.
Ngomongin soal temen… Jangan pernah suruh gue ngitung berapa banyak temen yang gue punya deh! Susah! Banyak banget. Segmentasinya juga beda-beda, mulai dari temen kuliah; temen clubbing; temen nongkrong dahsyat; temen ngopi-ngopi; temen shopping; temen kerja, temen SD; temen SMP; temen SMA; temen waktu di radio dulu; temen blogger; temen penulis, temen cewek, temen cowok, temen gay, temen… arrgghhh…, banyak banget!! Temen tapi mesra juga ada malahan
Oh ya, dari setiap segmen temen itu biasanya gue punya minimal satu temen yang paling deket. Temen yang selalu gue ajak curhat setiap kali gue ada masalah, temen yang selalu gue inget setiap kali gue mendapat kebahagiaan untuk dibagi. Temen yang menghabiskan hampir sebagian besar waktu gue untuk barengan, baik secara langsung maupun melalui media.
Soal pola pertemanan…, ini dia hal yang paling menarik buat gue karena… ternyata mereka semua, AMAZING FRIENDS gue ini sebagian besar tidak berada pada satu siklus pertemanan yang sama dan bahkan kalo mereka dipersatukan bakalan ngga cocok satu sama lain karena… yah itu dia, karena mereka berada di siklus pertemanan yang berbeda.
Dari situ gue baru sadar kalo ternyata gue ini adalah sebuah irisan. Gabungan antara berbagai jenis lingkungan pergaulan dengan pola kehidupan dan pertemanan yang berbeda-beda. Irisan dari berbagai pola.
Oh ya, kalo ngomongin soal temen gue, selalu ada berbagai perasaan yang muncul, mulai dari:
- Seneng karena gue dikelilingi oleh orang-orang yang (lagi-lagi) amazing, menyenangkan, dan fun to be with banget.
- bersyukur untuk menyadari di luaran sana banyak banget orang yang mencintai gue bahkan ketika seseorang menyia-nyiakan gue begitu aja dan membuat gue patah hati, bahkan ketika gue melangkah ke arah yang salah, mereka masih ada… memainkan peran yang sama tanpa pernah mengungkit-ungkit kesalahan gue.
Maka dari itu…
Kali ini gue cuma peengen berterima kasih sama kalian (girls, guys, and gays). Terima kasih untuk selalu menjadi teman gue, mesti terkadang gue yang cuma manusia biasa ini memperlakukan kalian dengan salah dan tidak bertingkah layaknya teman yang baik.
Dan semoga… pertemanan ini akan selalu ada untuk selamanya.
Love you girls, guys, and gays
Perpisahan
May 19, 2009
Kemarin gue melihatnya dari kejauhan
Melihat dia… sosok yang selama tiga tahun berturut-turut menempuh pendidikan di tempat yang sama, sosok yang malah berada pada ruang kelas yang sama di tahun terakhir pendidikan gue dan dia
Lalu seketika pikiran gue kembali ke masa itu
Masa ketika perpisahan terjadi
Lalu pikiran gue mulai mengurutkan satu per satu kejadian pada masa itu. Mulai dari gue yang pagi itu berangkat diantar papa, perasaan bersalah karena satu orang sahabat dan dua orang teman tidak menghadiri acara kelulusan karena dia memang tidak lulus, mengobrol dengan beberapa orang teman tentang hal yang sekarang ngga penting tapi sangat penting di masanya, Foto-foto, hingga sampailah pada bagian yang paling menyedihkan…
Akhir dari pesta perpisahan itu sendiri, dimana band pengisi mulai menyanyikan lagu Graduation-nya Vitamin C dan kami semua mulai berpelukan. Susah untuk menahan tangis pada moment seperti itu.
Dan ingatlah gue pada moment itu…
Moment ketika dia, sosok yang familiar tapi asing itu memeluk gue, lalu dia membisikkan gue satu kalimat, kalimat yang nggak akan pernah gue lupakan, kalimat yang seketika mengubah cara pikir gue tentang diri gue sendiri-mengubah ke arah yang positif tentunya
Dan lalu…
Gue merasa sangat ingin berlari mengejarnya yang telah semakin jauh dari penglihatan
Mengejarnya, lalu memeluknya, lalu mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya
Terima kasih untuk kalimat yang telah diucapkannya hari itu
Terima kasih untuk moment satu kali seumur hidup itu
Terima kasih untuk moment yang tidak akan pernah bisa terulang lagi, meski gue membayar mahal untuk itu
Terima kasih untuk segalanya
Dan bahkan… terima kasih saja masih terasa belum cukup
And there were times I refuse to grow up