Archive

Posts Tagged ‘feeling’

The Things He Said

November 15, 2009 senny 7 comments



Love Letters of Great Men

I just read Love Letters Of Great Men and I’m so enjoying that book until he comes right next to me and said:

“Sen, you don’t really need that book to inspire you on writing the next page of your project cause I’ll be the one who inspires you most.”

“Haha… give me one good reason why do I have to put you on my top inspirator list?”

“It’s simply to say because we do have ’something’ in our relationship. With this ‘thing’ who needs love letter of great men cause I’m great enough for you, at least I’m great enough to makes you feels better right?”

“…”

“Sen, am I great enough for you? Cause I’ll try harder if I don’t.”

Can somebody tell me how to write mati gaya in English?

P.S. Suddenly feeling send this book to trash bin is not bad idea at all.

Categories: Uncategorized Tags: , ,

With You

October 4, 2009 senny 22 comments

Harusnya siy berdasarkan aturan posting yang saya buat sendiri, pamali hukumnya bikin posting sekaligus dua di blog yang sama pada hari yang sama. Tapi berhubung saya lagi beneran cerita dan saya sendiri yang bikin aturannya, maka kali ini saya bikin pengecualian.

Tapi yah, terserah deh setelah posting ini kalian mau menganggap saya norak, dangkal, cheesy, atau mengejek saya dengan kata apa pun, saya nggak peduli. Silakan gunakan hak mencela saya sebaik mungkin, terima kasih!

By the way, basa-basinya kepanjangan yah? :D

Ok, so let’s go back to the topic!

Selalu ada masa di kehidupan saya, dimana saya berharap kalau pun waktu tidak bisa dihentikan, setidaknya waktu bisa berjalan lebih lambat dari biasanya. Seperti apa yang saya alami malam itu.

Saya selalu suka menghabiskan waktu dengannya untuk berwisata kuliner, konser dengan suara pas-pasan di Inul Vizta yang sebenarnya membanting harga diri karena satu-satunya lagu yang berskor 100 adalah lagu-lagunya Bening, lalu pada akhirnya menghabiskan waktu untuk mencari es krim sambil mengobrol tentang banyak hal. Saya selalu jatuh cinta dengan kebebasan yang diberikannya pada saya, kebebasan untuk bersikap atau berkata tanpa harus ada penyesalan di kemudian hari akibat penghakiman yang mungkin timbul setelahnya, karena faktanya dia sama sekali tidak pernah menghakimi saya bahkan ketika saya salah mengambil sikap.

Saya selalu senang akan setiap waktu yang saya habiskan dengannya.

Seperti waktu itu, di sebuah restoran 24 jam dengan suasana outdoor di daerah Dago – Bandung malam hari itu. Waktu saya sebenarnya sudah kehabisan energi akibat paginya berhadapan dengan si bos, siangnya berkeliaran sendirian akibat janji yang sangat mendadak dibatalkan, lalu sorenya menghabiskan waktu di sebuah toko yang juga restoran di daerah Dago untuk halalbilhalal dengan teman-teman blogger saya.

Waktu itu, saya yang sebenarnya sudah setengah jalan pulang memutuskan untuk kembali ke Dago dan menemuinya untuk sekedar mengobrol dan menghabiskan sisa malam akhir minggu kami dengan mengobrol tentang banyak hal, mulai dari bitching about those shit that currently happen into our lives, sampai dengan gosip soal orang-orang di sekitar kita.

Lalu malam itu semakin saya nikmati ketika akhirnya pembicaraan tertuju pada hal yang selalu mengundang ketertarikan saya. Di luar kesadaran, setiap kali berbicara soal hal-hal yang membuat saya tertarik, saya mengungkapkan pendapat atau berbicara dalam jangka waktu yang cukup panjang, tapi… jangankan memotong ucapan saya, dia bahkan sama sekali tidak terlihat bosan mendengarkan ucapan saya sampai akhirnya…

“Sen…”

“Ya?”

“Mata lo kayak kristal.”

“Ha? Ada beleknya maksud lo?”

“Bukan! You’re glowing, Sen. You’re always glowing everytime we’re talk about this or another stuff that you like.”

“Define glowing, please!”

“Well, gue tahu banget lo ngga bego untuk ngerti definisi glowing tapi biar gue jelasin. Glowoing itu adalah aura yang keluar jelas dari muka lo yang bikin..”

“Bikin apaan?”

“Duh, gue nggak harusnya ngomong gini, tapi setiap kali lo glowing, gue yakin banget every guy… every normal guy would love to kiss your lips. With that glow-look in your face, how could a guy not fall for you?”

“Gue baru tahu segitu betenya lo hari ini sampei-sampei lo kesambet. Kesambet apaan lo?”

“Seriously, you’re so hot, you know that?”

Dan waktu saya melihat ekspresinya mengatakan kalimat itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan pertemanan kami yang berlangsung hampir 8 tahun, saya merasa jantung saya berdegup sangat kencang ketika melihatnya. Detik itu juga saya merasa dengan saya memiliki dia, semuanya menjadi cukup dalam hidup saya.

Detik selanjutnya, saya mulai mempertanyakan apakah benar-benar tidak ada apa-apa antara saya dan dia karena faktanya: saat ini saya sedang merasa ada sesuatu, sebuah chemistry yang sangat kuat antara saya dan dia, sesuatu yang telah disangka oleh mereka yang mengenal saya, dia, atau kami dalam satu paket sejak bertahun-tahun yang lalu. And the thing is:

I really don’t care if world around me goes wrong as long as I have him in my life

About Wounds

October 2, 2009 senny 21 comments

Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman, topik pembicaraan kami yang ngalor ngidul entah kenapa pada akhirnya bisa sampai pada obrolan soal luka. Teman saya dan saya sama-sama keberatan dengan quotes yang berbunyi: “time will heals all wounds”.

Faktanya adalah nggak semua luka bisa disembuhkan, beberapa luka masih tersisa dan terpendam di dalam hati, terbawa dalam putaran waktu, dan mau nggak mau mempengaruhi reaksi kita terhadap sesuatu akibat traumatis. Beberapa luka memang tidak bisa disembuhkan karena luka itu terlalu dalam dan menyakitkan.

Pikiran saya akhirnya membawa saya kembali pada moment itu. Sewaktu saya masih kecil, saya masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya dinomor duakan, bagaimana rasanya ditolak, bahkan ketika saya sudah berusaha keras untuk diterima di lingkungan saya.

Waktu kecil sebenarnya saya masuk kategori anak yang pendiam. Saya memiliki masalah dalam kemampuan bersosialisasi dengan orang lain. Saya merasa malu ketika harus memperkenalkan diri saya kepada orang yang baru saya temui. Saya merasa minder ketika harus berbicara dengan suara keras di depan umum. Saya entah kenapa… tidak pernah bisa memberanikan diri saya untuk mengajak teman saya bermain dengan saya.

Akibatnya, saya sempat jadi korban bullying waktu TK (let’s skip this part!). Lalu penolakan berlanjut ketika saya yang sempat tinggal di Batam harus kembali ke Bandung dan bersekolah di sekolah yang terkenal… mahalnya. Waktu itu saya seperti anak kampung yang baru masuk kota. Secara akademis saya ketinggalan banyak, tingkat pendidikan di Batam dan di Bandung memang berbeda. Secara pergaulan juga saya ketinggalan, cara bicara saya beraksen melayu, sisa-sisa peninggalan 3 tahun di Batam. Dan tentunya, sebagian besar murid di SD saya tidak menerima saya yang berbeda dengannya.

Belum cukup itu saja, saya yang pendiam dan kakak saya yang tergolong populer dan mudah bergaul selalu dibanding-bandingkan. Posisi perbandingan tentunya tidak menguntungkan bagi saya karena saya selalu dinomorduakan.

Sekarang ini, beberapa orang terlihat kaget melihat saya yang sekarang. Menurutnya, saya telah mengalami perubahan yang cukup drastis. Saya, sependapat dengan mereka tentunya.

Saya yang sekarang tidak akan sungkan-sungkan untuk berkenalan dengan orang-orang baru, bahkan dari segi kuantitas, jumlah kenalan saya bisa masuk dalam kategori sangat banyak. Saya yang sekarang tidak akan minder dan malah sangat percaya diri jika harus berbicara di depan umum, bahkan ketika topik pembicaraannya adalah sesuatu yang tidak benar-benar saya kuasai. Dan saya, bahkan tidak pernah merasa takut lagi ketika ingin mengajak teman saya untuk beraktivitas dengan saya.

Kenapa saya berubah? Well, let’s say karena saya yang menginginkan perubahan itu sendiri. Saya sendiri tidak tahu kapan pastinya saya mulai merubah diri saya secara perlahan, tapi saya masih bisa mengingat dengan jelas prosesnya. Proses ketika saya terluka, proses menyalahkan orang lain dan diri sendiri atas penolakan-penolakan di lingkungan, sampai akhirnya saya berada pada posisi lelah selalu ditolak dan memutuskan untuk berubah.

Lalu apa saya benar-benar berubah?

Jawabannya adalah tidak. Saya yang berubah hanya bagian dari diri saya yang minoritas, sementara mayoritas dari diri saya adalah bagian dari diri saya yang masih sama seperti waktu saya masih kecil, bagian yang masih menyimpan semua luka akibat penolakan-penolakan dan posisi selalu dinomorduakan.

Maka saya membuat kesimpulan bahwa:

Time does not heals all wounds, it’s just cover it. The thing is: some wounds never gone.

Categories: Uncategorized Tags: , , , ,

Pra 22 Syndrome

September 27, 2009 senny 20 comments

It’s not suppossed to be like this.

2 adalah angka keberuntungan saya, dan jika 2 itu digandakan menjadi 22, saya selalu merasa jauh lebih beruntung. Mungkin ini cuma sugesti, tapi yang jelas sugesti saya pada angka 2 cukup membantu meningkatkan kepercayaan saya terhadap sesuatu yang sedang saya lakukan atau setidaknya terhadap diri saya sendiri. Jadi seharusnya, menjelang ulang tahun yang ke 22 ini, saya tidak menjadi senegatif sekarang. Sugesti saya terhadap angka 22 jelas tidak membantu saya sama sekali dalam menghadapi semua ini.

Satu bulan lagi waktu itu datang, saya akan menginjak 22 tahun satu bulan yang akan datang, dan saya seperti tahun-tahun selanjutnya, mengalami pra b’day syndrome.

Belakangan ini saya menjadi over sensitive dan over reaksi terhadap segala sesuatu. Bahkan hal kecil yang dalam keadaan normal sama sekali tidak pernah saya pikirkan mendadak bisa membolak-balik mood saya dalam hitungan detik. Singkatnya, saya kembali menjadi a grumpy impulsive useless person.

Belakangan ini juga saya mulai capek dengan kehidupan saya yang terasa sangat datar. Capek mencoba mengerti orang lain di saat bahkan mereka sama sekali tidak mau mengerti perasaaan saya. Capek memendam semua emosi yang ada hanya karena saya berusaha sangat keras untuk tidak pernah menyakiti perasaan mereka sekalipun perkataan mereka seringkali menyakiti perasaan saya. Capek mengatur segalanya, memastikan segalanya berjalan lancar, sementara rencana yang saya buat sendiri bahkan tidak pernah lepas dari hambatan. Capek dituntut untuk selalu kreatif dan mendatangkan ide-ide segar sementara ada begitu banyak hal yang harus saya lakukan tetapi begitu sedikit waktu yang saya punya. Capek mengatur jadwal untuk orang lain, mulai dari jadwal pertemuan rutin teman-teman sma sampai jadwal mengerjakan tugas kuliah, menentukan tempat pertemuan, mengkomunikasikan rencana dengan mereka semua, sehingga saya lupa kalau saya harusnya mengatur jadwal untuk diri saya sendiri.

Ini mungkin pengakuan terjujur yang pernah saya ucapkan: saya sedang capek mengatur urusan orang lain, sementara urusan saya sendiri seringkali terabaikan.

Biasanya, ketika saya sedang mengalami pra b’day syndrome, saya selalu mencurahkan semuanya ke BFF saya, Zhe. Tapi sepertinya untuk kali ini saya harus bisa menghadapinya sendirian, Zhe sedang sibuk dan sedikit stress dengan rencana pernikahannya dan saya benar-benar merasa tidak ada seorang pun yang bisa saya andalkan lagi (bukan berarti kalian nggak penting buat saya lho!).

Kali ini saya mau meminta maaf pada kalian, maaf jika saya (mungkin) akan lebih sering membawa aura negatif terhadap kalian ketimbang aura positif. Maaf jika saya mendadak over sensitive dan berlebihan menghadapi segala sesuatunya.

Mudah-mudahan pra 22 syndrome ini segera berakhir

Categories: Uncategorized Tags: , ,

Yes is a [Yes] is a No

September 9, 2009 senny 27 comments

Seumur hidup saya, saya selalu kagum dengan mereka – orang-orang yang selalu mampu mengungkapkan isi hatinya dengan mudah. Selalu kagum dengan mereka yang mengatakan ya ketika hatinya menjawab ya, mengatakan tidak ketika hatinya mengatakan tidak. Menyatakan dirinya dengan tegas bahwa dia tidak suka atau suka terhadap sesuatu tanpa khawatir akan apa pun.

Saya kagum dengan mereka karena saya tidak pernah bisa begitu.

Ini adalah satu lagi hal yang tidak orang-orang ketahui tentang saya, saya yang dari luaran terlihat santai, justru memiliki kekhawatiran terdalam setiap kali saya ingin menyatakan sesuatu.

Saya sangat memahami perasaan ditolak, saya tahu betapa sakitnya ditolak oleh lingkungan dan keadaan. Dan sumpah, sampai mati saya tidak mau lagi merasakan perasaan itu!

Ketakutan saya akan ditolak oleh lingkungan sangatlah besar, sebuah ketakutan yang hanya bisa dirasakan dan dimengerti oleh saya dan orang-orang yang pernah mengalami apa yang saya alami.

Ketakutan terdalam itu akhirnya membawa saya pada kehidupan yang serba palsu. Pribadi yang saya sajikan kepada orang-orang bukanlah saya yang apa adanya. Saya selalu berusaha mengikuti mereka, menyimpan perasaan dan pemikiran terdalam saya dan membiarkan mereka tidak pernah tahu apa yang saya rasakan dan saya pikirkan.

Saya lebih membiarkan orang berpikir tentang saya sesuai yang mereka ingin pikirkan tentang saya daripada apa yang saya ingin mereka pikirkan tentang saya.

Terserah setelah posting ini kamu akan mengatai saya palsu, pengecut, atau apalah. Saya benar-benar tidak peduli lagi sekarang.

Saya sedang depresi. Depresi yang sama seperti sebuah gempa, jika eksistensinya terlalu lama, akan merubuhkan. Depresi ini nyaris membuat saya gila. Parahnya, depresi ini berlangsung untuk kesekian kalinya.

Saya benar-benar mengatakan depresi dalam artian yang sebenarnya, bukan sekedar perumpamaan atau kata-kata yang saya gunakan dalam konteks dilebih-lebihkan seperti apa yang tertulis dalam naskah sinetron sekarang ini. Depresi yang sama, setahun yang lalu pernah membuat saya berada pada lubang sakit hati terdalam dan membuat saya pusing memikirkan apa alasan saya untuk hidup setiap kali saya bangun pagi. Untunglah saya selalu menemukan alasan untuk hidup, sebab jika tidak, mungkin sekarang ini saya hanya tinggal sebuah nama.

Saya benar-benar membutuhkan pertolongan Tuhan saat ini, bukan yang lain. Bahkan teman-teman saya yang sangat banyak dan selalu bersedia membantu pun tidak akan pernah bisa membantu. Bahkan setiap lagu dari Alanis Morisette dan Vonda Shepard yang diputar oleh Playlist saya tidak mampu membantu saya merasa sedikit lebih baik.

Saya depresi oleh apa yang dipikirkan dan dirasakan tapi tidak pernah bisa terungkap.

Everyone must think that I’m strong enough, but actually I’m a fragile one

Categories: Uncategorized Tags: ,