Speechless
DAMN!!!!!
I |think| just make a huge mistake!!!!
what a moron!
Kemarin gue ketemu sama temen lama gue di sebuah mall. Pertemuan nggak disengaja yang lalu menjadi reuni dadakan. Ada satu hal yang bikin gue sangat takjub dengan reuni dadakan. Sang teman lama ini, yang sebut saja namanya Ms. A mengalami perubahan fisik yang sangat jauh berbeda dari fisik Ms. A yang kukenal satu atau dua tahun lalu.
Setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya Ms. A cerita kalo dia melakukan berbagai jenis operasi untuk ‘mempercantik’ dirinya. Mulai dari penyuntikan supaya kulitnya putih, sedot lemak, sampai pembentukan bagian tubuh sana-sini. Hasilnya? Umm…, cantik siy tapi…
nampak sangat nggak alami (baca: palsu)
Dari reuni dadakan itu ada beberapa point penting yang kepikiran di kepala gue:
Kalo sudah begini gue jadi bingung. Bingung mendefinisikan kecantikan itu seperti apa. Bingung harus menyalahkan siapa.
Apakah keinginan besar setiap wanita untuk menjadi wanita media (atau seenggaknya terlihat seperti wanita media) itu karena pengaruh media yang sangat kuat?
Lalu… siapakah yang bisa disalahkan dalam hal ini? Apakah media yang terlalu gencar dan kuat mempropaganda masyarakat? Atau masyarakat yang terlalu lemah menerima propaganda-propaganda media?
What about you, guys?
What do you think about this?
Kemarin teman gue bercerita kalau akhir minggu kemarin dia menjadi korban diskriminasi identitas. Masalah kecil siy. Jadi waktu akhir minggu kemarin, dia mengantri sangat panjang untuk memasuki sebuah club malam, padahal waktu itu dia sudah reservasi tempat. Tapi… tiba-tiba saja antrian panjang itu terpotong, diserobot oleh orang yang datang tiba-tiba dan tanpa ada reservasi terlebih dahulu. Belakangan, teman gue ini baru tahu kalo sang penyerobot itu adalah anak seorang anggota DPR.
BUat temen gue, ini bukan cuma sekedar masalah sepele tapi sudah menyangkut masalah sosial yang nggak bisa dibiarkan.
Dari cerita teman gue itu, gue jadi kepikiran kalau kita… yang cuma manusia biasa yang seringkali khilaf dan jauh dari kata ideal ini emang sering banget memberikan level playing field yang nggak seimbang untuk orang lain. Biasanya, meskipun tidak selalu… kita menilai seorang manusia itu sebagai sebuah produk yang sudah ditempeli ‘trademark’ tertentu, bukan sebuah produsen yang menghasilkan ‘trademark’ itu sendiri.
Namanya juga manusia, wajar banget kalau mereka cenderung lebih beranggapan ‘produk’ dengan identitas yang lebih baik memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan ‘produk’ dengan identitas yang kurang baik atau setidaknya berada di kelas identitas bawahnya.
Dari situ imajinasi gue membawa gue ke dalam sebuah pasar identitas, dimana satu-satunya komoditas yang diperjualbelikan adalah identitas. Ya, kita-di luar kesadaran kita, sudah mengubah dunia nyata yang sangat reaslistis ini menjadi sebuah tempat jual beli identitas, dimana seorang ‘produk’ dengan ‘trademark’ yang baik bisa membeli jauh lebih banyak dan mendapatkan privilege yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan seorang ‘produk’ dengan ‘trademark’ yang berada di level bawah.
Seharusnya siy yang terjadi nggak kayak gitu, karena menurut yang gue baca di Kompas edisi 3 Mei 2007 dalam sebuah kolom yang berjudul Sang Nasi Dalam Politik Identitas yang ditulis Seno GUmira Ajidarma:‘Identitas adalah suatu produksi, bukan suatu esensi yang tetap dan menetap. Dengan begitu identitas selalu berproses, selalu membentuk di dalam-bukan di luar-representasi. Ini juga berarti otoritas dan keaslian identitas dalam konsep “identitas kultural” misalnya, berada dalam masalah. Identitas hanya bisa ditandai dalam perbedaan sebagai suatu bentuk representasi dalam sistem simbolik maupun sosial, untuk melihat diri sendiri tidak seperti yang lain’.
Tapi itu ‘kan penilaian yang seharusnya… yang etis… Pada akhirnya, kita semua harus dihadapkan dengan realita. Dan realita yang (sialnya) harus kita hadapi adalah, politik identitas; diskriminasi identitas; dan pasar identitas selalu ada di sekitar kita… tidak pernah beranjak (bahkan) sedikit pun.
Dan sekarang yang sedang gue lakukan adalah memainkan peran gue sebaik mungkin. Melakukan politik identitas, berusaha untuk tidak melakukan diskriminasi identitas, dan berusaha menjadi penjual dan pembeli identitas yang baik supaya… gue bisa mencapai identitas yang mapan, menjadi seorang produk yang valuable, dan tidak menjadi korban diskriminasi identitas seperti temen gue itu….
Pertemuan gue dengan Zhe kemaren membawa berita buruk. Zhe kali ini datang membawa berita kehamilan. Bukan… bukan si Zhe yang hamil (soalnya gimana bisa si Zhe hamil kalo selama ini satu-satunya jantan yang deket sama dia cuma si Jojo, fortuner item punyanya dan satu-sartunya teman tidur dia adalah guling). Bukan juga si Obi, kucing jantannya si Zhe. Tapi… pembantunya Zhe yang hamil.
Nah, yang bikin Zhe stress adalah sang pembantu berinisial T ini hamil di luar nikah akibat ketelatan mengangkat sang supir tetangga sebelah berinisial A yang ternyata terkenal sebagai playboy di kalangan pembantu, supir, dan satpam komplek rumahnya Zhe. Yang bikin masalah adalah… si pria berinisial A ini melepas tanggung jawabnya begitu saja dan… malah meninggalkan T demi seorang pembantu tetangga sebelah yang belum lama datang dari kampungnya.
Zhe bingung…
Gue juga jadinya kebawa bingung…
Mau disuruh pulang kesannya Zhe lepas tanggung jawab karena seharusnya sebagai majikan yang baik ‘kan Zhe memantau pergaulan si T ini. Lagian T takut pulang karena takut dimarahin orang tuanya yang katanya masih sangat konservatif (padahal kan masalah hamil di luar nikah itu bukan masalah konservatif tapi lebih ke masalah moral. Iya nggak siy?!)
Mau disuruh gugurin ‘kan nggak etis banget. Lagian dosa si Zhe udah banyak, si T juga udah banyak berdosa dengan melakukan seks pra nikah jadi jangan tambah-tambahin daftar dosa…
Mau dikawinin, sama siapa juga?! Secara sang pria ini sudah jelas-jelas lepas tanggung jawab dan parahnya lagi sang majikan si A juga ogah ikut campur dalam urusan yang katanya sepele (masalah hamil di luar nikah kok dibilang sepele siy om??!!)
Yang bikin Zhe tambah stress dan berdampak membawa gue ke lubang gelap bernama depresi karena penyakit akut stress-nya Zhe sama seperti penyakit menular seks yang kalau deket-deket bisa tercemar kemana-mana, waktu Zhe cerita ke nyokapnya yang sekarang ini lagi ada di Paris, nyokapnya malah marahin Zhe. Pake acara bilang “gimana bisa mau punya anak yang bener kalo ngurusin pembantu aja nggak bener?!”.
PAdahal selama ini Zhe bukannya kurang memantau cuma ‘kan belakangan ini Zhe lagi sibuk dengan bisnis barunya yang bikin dia harus pergi pagi pulang malem dan jarang berada di rumah. Lagian nggak mungkin juga ‘kan Zhe terus-terusan memantau T.
Sebenernya ini bukan pertama kalinya gue mendengar cewek hamil di luar nikah yang lalu ditinggal begitu saja sama sang pelaku.
Dari situ gue mulai kepikiran…
Padahal di zaman sekarang ini harusnya perempuan menjadi lebih pintar dengan tidak semudah itu menyerahkan Ms. V kepada laki-laki.
Padahal di zaman sekarang ini harusnya perempuan banyak mengambil hikmah dari banyak kejadian dengan kalau pun harus memberikan ‘itu’, maka berikanlah dengan pengaman.
Atau lebih naifnya lagi (dan ini hanya pikiran ternaif saya - seorang manusia biasa yang menganut feminisme liberal), sebaiknya perempuan tidak usah percaya akan keberadaan cinta sama sekali.
Tapi ya… susahlah kalau kita membicarakan mengenai seharusnya… toh semua sudah kejadian. Keperawanan sudah terrenggut. Sperma sudah menyatu dengan sel telur. Anak sudah berada dalam kandungan.
Dan pertanyaan terbesar gue sampai saat ini adalah…
APA YANG HARUS ZHE LAKUIN SEKARANG??!!
so guys…, ada solusi?!
Ada tips nih… sebenernya bukan ide orisinil dari gue, tapi lumayanlah buat di-share sama kalian semua. Tapi sebelum gue memulai tipsnya, izinkan gue untuk bercerita terlebih dahulu…
Jadi…, kemaren si ibu laknat dan biadab yang selalu setia menjadi pertner in crime-nya gue ngajak gue ketemuan. Tapi… dasar manusia sial, waktu gue samperin ke rumahnya, tuh anak msh mandi. Dan secara nungguin ibu yang satu itu sama lamanya kayak nungguin jodoh, maka gue dengan gencarnya menyerang kamar mandi dengan ocehan nggak penting gue tentang betapa pentingnya jadi orang yang on time dan betapa banyaknya waktu berharga gue terbuang sia-sia cuma buat nungguin makhluk nggak penting bernama Zhe.
NGgak ngerti karena emang gue dengan gaya ganggu gue atau karena dia emang males dandan, dia langsung gue ngajak jalan. Sempet takjub juga ngelihat ibu dandy yang satu ini mau kluar rumah tanpa dandan sekali pun (dia bahkan nggak pake lotion sama sekali). As usual, PVJ adalah tujuan utama kita.
Jadi ini dia tips dari Zhe-sang manusia banyak akal. Oh ya, WARNING: kalo kamu nggak bagus dalam akting, then do NOT do it!
HOW TO LOOK GREAT FOR FREE
Huehe… gmn sama tipsnya?
Berguna banget ‘kan? Atau malah nggak mutu?!
Ah ya sutralah… gue mau melanjutkan proyek menulis gue yang selalu terhambat sindrom putus di tengah jalan. NGgak penting banget yak?!
Btw, miss y’all guys!