Archive | November, 2010

Hidup Dalam Mimpi

30 Nov

“Lo tahu nggak sih berapa banyak orang di luaran sana yang pengen ada di posisi lo? Banyak banget sen yang dying to get a job, apa pun itu jenis pekerjaannya, sementara lo dengan berbagai jenis peluang yang ada, lo malah menyia-nyiakannya aja gitu.”

Kalimat itu diucapkan oleh seorang teman ketika saya bercerita bahwa saya baru saja menolak beberapa tawaran pekerjaan yang datang pada saya.

Semuanya berawal dari keisengan saya. Iya, kalau lagi tidak ada kerjaan, saya memang suka iseng, mulai dari iseng SMS nanya kabar ke mantan pacar (yang sering banget bikin mereka geer setengah mati kalau saya masih menyimpan ‘perasaan’ pada sang mantan) sampai iseng ngirimin CV saya ke perusahaan-perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Berbekal keisengan yang selanjutnya, saya pun mulai menghadiri panggilan interview dari beberapa perusahaan yang saya kirimi CV dengan sedikit harapan bahwa saya akan jatuh cinta pada perusahaan itu atau mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan saya atau setidaknya, biarkan saya menemukan jodoh saya di perusahaan itu (abaikan yang terakhir ini).

Ah ya, seperti yang sudah bisa ditebak dari pengalaman-pengalaman terdahulu, keisengan selalu membawa saya pada masalah. Salah satunya adalah beberapa perusahaan tersebut jatuh cinta pada image yang saya tampilkan ketika sedang interview, lalu menawari saya pekerjaan yang… selalu berujung pada penolakan dari saya.

Sssttt… sebenarnya masalah ini rahasia ya. Saya tidak menceritakan soal ini ke keluarga saya karena saya tahu pasti mereka pasti tidak akan mengerti kenapa saya menolak tawaran kerja yang datang pada saya karena tepat seperti apa yang dikatakan teman saya, di luaran sana banyak sekali orang yang mati-matian menginginkan sebuah pekerjaan, tapi saya yang mendapat beberapa tawaran malah menolaknya.

Alasannya adalah karena saya belum menemukan pekerjaan yang cocok untuk saya. Tidak… jangan pernah berpikiran bahwa definisi pekerjaan yang cocok di mata saya adalah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, membuat saya mampu membeli barang-barang branded setiap hari, dan bisa membawa saya keliling dunia setahun sekali. Saya tidak menilai sebuah pekerjaan semata-mata dari segi finansial saja.

Alasannya adalah karena saya merasa di usia saya yang 23 tahun ini saya tidak benar-benar mengejar mimpi saya. Sepanjang hidup saya, saya memiliki banyak mimpi yang ingin saya kejar, saya juga selalu tahu apa yang saya inginkan dalam hidup saya hanya saja… saya tidak pernah benar-benar merasa telah berbuat sesuatu untuk mengejar mimpi saya.

Seperti mimpi saya ingin menjadi pengacara yang tanpa alasan yang jelas berakhir begitu saja karena lulus SMA saya malah memilih untuk kuliah di jurusan manajemen ketimbang di jurusan hukum.

Seperti mimpi saya menjadi seorang penulis yang berakhir begitu saja karena saya tidak pernah konsisten menulis dan semua ide cerita saya selalu saja berakhir pada konsep tanpa pernah saya sentuh dan kembangkan sedikit pun.

Seperti mimpi saya untuk ini dan itu yang berakhir begitu saja karena saya memang tidak pernah melakukan sesuatu hal untuk itu. Padahal kenyataannya tidak ada hambatan yang cukup berarti yang dapat menghentikan saya mengejar mimpi saya. Padahal (Seperti apa yang dikatakan teman-teman saya) saya memiliki potensi untuk hidup dalam mimpi saya. Padahal… ah sudahlah.

Tanggal 27 Oktober kemarin, di hari ulang tahun saya yang ke 23, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu sendirian, merenung mengenai perjalanan hidup yang telah saya lewati selama 23 tahun dan menyusun visi masa depan berbekal keinginan untuk mulai serius terhadap hidup saya sendiri karena saya sudah tidak muda lagi.

Saat itulah saya mulai menyadari (atau lebih tepatnya menyesali) diri saya yang tidak pernah benar-benar serius akan mimpi saya. Harusnya segudang mimpi yang dibekali oleh cukup banyak kemampuan dapat membawa saya hidup dalam mimpi saya dalam artian yang sebenarnya, bukan malah membiarkan mimpi-mimpi tersebut tetap menjadi angan-angan yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Makanya, saya membuat keputusan untuk berhenti bermain-main dan mulai serius terhadap keinginan saya. Makanya, saya menolak pekerjaan tersebut karena saya tahu bukan pekerjaan tersebut yang sesuai dengan keinginan saya. Makanya, saya lebih memilih untuk bertahan dalam wilayah abu-abu saya yang penuh dengan ketidakpastian ketimbang memilih satu warna yang saya tahu pasti tidak ingin saya pilih.

Saya menolak tawaran tersebut bukan karena saya menolak rejeki, atau memasang standar yang tinggi, atau idealis, atau apapun itu. Saya menolak tawaran tersebut karena saya tidak ingin bangun di usia saya yang menginjak kepala 3 suatu saat nanti, lalu mulai menyesali diri karena saya tidak pernah benar-benar berusaha mengejar apa yang saya inginkan. Saya tidak mau menjadi bagian dari golongan mereka yang mapan finansial karena pekerjaannya tapi tidak pernah bahagia akan itu. Saya tidak mau membangun sebuah jembatan dengan tembok yang tinggi sebagai pemisah antara realita tempat saya hidup dengan keinginan yang hanya sebatas mimpi saja.

“Emangnya lo yakin mimpi lo bakalan bikin lo bahagia kalau lo mampu ngewujudinnya?”

Though question. Saya menghembuskan napas saya menghadapi pertanyaan ini, tersenyum, lalu menjawab “setidaknya saya sudah berusaha”.

Monster

11 Nov

Satu hal yang selalu sukses membuat saya ingin kembali ke masa lalu adalah karena monster yang menghantui saya hidup di kolong kasur saya dan hanya mendatangi saya ketika malam datang dan saya (terpaksa) harus tidur.

Berbeda dengan saat ini, ketika usia saya menginjak twenty something. Monster tersebut tidak lagi hidup di kolong tempat tidur saya, kini monster tersebut hidup dengan nyaman di pikiran saya.

Itulah mengapa saya selalu berusaha untuk tetap sibuk. Jika saya tidak dapat menemukan sesuatu yang bisa saya lakukan, saya mencari teman untuk bersosialisasi, baik itu melalui pembicaraan langsung atau sekedar sahut-sahutan di Twitter. Tentunya, kesibukan itu tidak selalu ada, ada masa ketika saya sedang benar-benar sial dan tidak ada satu pun yang bisa dilakukan, waktu seperti itulah yang selalu dipergunakan oleh monster tersebut untuk menyerang saya.

Monster itu bukan lagi sebuah sosok mengerikan, bertaring, bertubuh besar, dengan mata menyala yang seolah-olah siap menyerang saya kapan pun dia mau. Monster tersebut kini telah menjelma menjadi sebuah pikiran negatif yang membuat saya merasa jauh lebih takut daripada ketika saya harus berhadapan dengan monster imajinasi saya sewaktu masih kecil. Satu hal yang membuat saya merasa semakin terancam adalah karena saya tahu bahwa monster yang berhadapan dengan saya sewaktu kecil hanyalah sosok khayalan belaka, sementara monster yang kini berhadapan dengan saya adalah sesuatu yang sifatnya lebih nyata.

Monster tersebut kini menjelma menjadi sebuah kekhawatiran. Kekhawatiran bahwa hidup tidak berjalan sebagaimana rencana saya. Kekhawatiran akan tidak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.Singkatnya, saya khawatir akan masa depan saya, sesuatu yang memang sih belum terjadi, tapi mungkin saja terjadi

Monster tersebut kini menjelma menjadi sebuah ketakutan. Ketakutan akan kehilangan orang-orang (dan hal-hal) yang saya cintai. Ketakutan akan kegagalan. Ketakutan akan segala kemungkinan terburuk dalam hidup ini yang (lagi-lagi) belum terjadi tapi sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu.

Berbeda dengan ketika saya masih kecil dimana saya bisa langsung berteriak dan membangunkan orang-orang untuk membantu saya mengusir monster, kali ini hanya tinggal saya sendirilah yang harus berhadapan dengan monster tersebut.

Pada akhirnya saya disadarkan oleh sebuah fakta bahwa musuh terbesar dalam hidup saya adalah diri saya sendiri, sebab dari diri saya sendirilah monster itu lahir, hidup, dan tumbuh. Dari diri saya sendirilah saya menghasilkan “makanan” untuk dikonsumsi oleh monster tersebut sehingga monster itu menjadi sebuah sosok yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Tapi, tidak peduli betapa mengganggunya monster tersebut dalam hidup saya, saya tidak akan pernah membiarkannya mati. Saya akan terus membuatkan makanan yang lezat untuk monster tersebut, karena jika monster tersebut mati, saya akan kehilangan tujuan saya dalam hidup dan tidak ada lagi yang pantas diperjuangkan.

Saya akan membiarkan monster itu tetap hidup dan tumbuh menjadi kuat bersama saya.

“Cara terbaik mengatasi monster dalam pikiran kamu adalah dengan jatuh cinta pada diri kamu sendiri, karena dengan cara itulah kamu bisa bersahabat dengan sang monster” - dia, beberapa jam yang lalu

 

Sepatu

9 Nov

Beberapa tahun yang lalu saya dibuat jatuh cinta pada sebuah sepatu. Sepatu berwarna hitam bertali dengan model minimalis yang sangat kontras dengan harganya yang mahal. Saya tidak pernah tahu mantra apa yang digunakan oleh sang pembuat sepatu tersebut sampai-sampai dari sejak pertama kali saya memandang sepatu itu, saya tidak pernah bisa melepaskan pikiran saya dari sepatu itu.

Sayangnya, saya bukan orang super kaya dengan uang tak berseri yang mampu membeli sepatu tersebut semudah membeli pisang goreng. Maka dimulailah usaha keras saya untuk mendapatkan sepatu itu. Saya pun mulai menabung, mengurangi jatah jajan saya, dan menahan diri dari godaan hang out bersama teman-teman saya, dan saya bertekad sebelum saya mampu membeli sepatu itu, saya akan sesering mungkin mengunjungi toko tersebut, cuma untuk memastikan bahwa sepatu itu masih tersedia untuk saya dan tetap berada di tempatnya.

Akhirnya saat itu pun datang, saat-saat yang paling ditunggu dalam hidup saya, dimana saya akhirnya bisa ‘dikawinkan’ dengan sesuatu yang membuat saya jatuh cinta teramat dalam. Saat dimana saya telah memiliki cukup banyak uang untuk membeli sepatu tersebut.

Tidak… jangan pernah berpikir bahwa cerita ini akan berakhir bahagia karena cerita ini belum selesai.

Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?

Sepatu itu masih ada di tempat yang sama, masih dengan harga dan gengsi yang sama seperti saat saya jatuh cinta pada sepatu itu. Sepatu itu masih ada, menunggu saya dengan setia dan harusnya saya merasa lega karena akhirnya cinta saya kesampaian. Tapi yang terjadi adalah saya justru pulang dengan patah hati, tanpa kantung berisi sepatu tersebut di tangan saya. Sesuatu terjadi ketika saya mencoba sepatu itu, untuk alasan yang tidak pernah bisa saya ungkapkan hingga hari ini, sepatu yang terlihat cantik di kaki saya tersebut terasa aneh di kaki saya. Jangan pernah minta saya definisikan kata ‘aneh’ tersebut karena hingga saat ini pun saya tidak pernah bisa mendeskripsikan rasa aneh tersebut.

Satu-satunya hal yang bisa saya deskripsikan dengan jelas adalah betapa patah hatinya saya karena cinta saya pada sepatu tersebut akhirnya berbuah kekecewaan, kecewa karena cinta saya yang begitu besar pada sepatu tersebut selama berminggu-minggu tiba-tiba saja kandas dalam durasi kurang dari 5 menit hanya karena sebuah keanehan yang tidak pernah bisa saya definisikan.

Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa seringkali saya menilai seseorang (atau sesuatu) hanya berdasarkan tampilan dan gengsi yang kelihatan dari luarnya saja, begitu gampangnya mengambil keputusan akan perasaan saya, lalu pada akhirnya berakhir dengan sebuah kekecewaan karena saya hanya menilai perasaan saya sebatas pada apa yang saya lihat saja.

Dan kamu…, saya menganalogikan kamu seperti sepatu itu

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.