Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah pembicaran hilang arah saya dengan beberapa rekan kerja, saya menyatakan bahwa tidak mengenakan sendal jepit, terutama sendal jepit karet yang sepertinya merupakan barang wajib masyarakat Indonesia, merupakan salah satu harga mati dari lelaki yang ingin berkencan dengan saya. Pengakuan tersebut sukses membuat rekan kerja saya berpikir saya ini manusia aneh (yang saya heran kenapa mereka baru menyadari bahwa saya ini aneh sekarang, bukannya dari dulu-dulu) dan… ini point paling penting, judgmental.
Pernyataan teman saya soal sifat judgmental saya ini membawa saya ke sebuah pertanyaan:
Emangnya hari gini masih ada orang yang nggak judgmental?
Pertanyaan tersebut kemudian mengingatkan saya kepada sebuah pepatah yang terdengar basi di telinga saya dan hampir tidak mungkin dilakukan: do not judge a book by its cover.
Jadi begini yah saudara-saudara, saya ini hidup di kota besar, memiliki tingkat mobilitas yang tinggi, memiliki begitu banyak teman, dan keadaan memaksa saya untuk bertemu dengan begitu banyak orang asing dan saya juga yakin di luaran sana, masih banyak sekali orang yang senasib dengan saya. Jadi saya rasa judgmental sudah merupakan sebuah sifat yang mendarah daging.
Masalahnya adalah saya (dan saya yakin juga begitu banyak orang di luaran sana) terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing, sehingga tidak memiliki cukup waktu dan kesempatan untuk mengenal dan mengkaji lebih dalam mengenai setiap orang yang saya temui. Dengan keterbatasan waktu dan kesempatan yang sangat tidak seimbang dengan jumlah orang yang saya temui di muka bumi ini, tentu saja hal tersebut memaksa saya untuk menjadi seorang manusia yang lebih memilih, memilih dengan siapa saya ingin mengenal seseorang lebih jauh lagi, dan kalau tidak ada embel-embel kepentingan di belakangnya, tentu saja pilihan tersebut dijatuhkan berdasarkan penampilan semata.
Belum lagi dengan budaya keluarga saya yang mendidik saya untuk tampil rapi sebagai tanda penghargaan terhadap diri sendiri dan juga orang lain, membuat saya terbiasa menilai orang berdasarkan apa yang saya lihat terlebih dahulu, untuk kemudian jika saya memiliki cukup waktu, cukup kesempatan, atau kepentingan terselubung mencoba untuk menjadi lebih objektif dan mengenal orang tersebut secara lebih detail.
Okay, saya tahu setelah posting ini ada kemungkinan besar saya akan dicap dangkal karena menilai berdasarkan apa yang saya lihat saja, tapi sebagai sebuah pembelaan, saya sama sekali tidak berharap setiap orang yang saya temui memakai baju trend terbaru atau keluaran brand ternama, saya cuma menginginkan setiap orang setidaknya, berpenampilan rapi, menarik, dan sesuai pada tempatnya. Itu saja cukup, karena (sekali lagi) orang yang berpenampilan baik adalah orang yang bisa menghargai orang lain dan dirinya sendiri.
P.S gambar diambil dari sini!
Hmmm.. saya masih ingat kok postingan yang dulu itu.
Ga masalah saya rasa, semua orang punya pandangan masing2. Jangan pedulikan omongan orang lain.
masalah waktu memang.. hehe.. gak cukup buat mendalami.
Tapi kalo bisa meminimalisir generalisasi….
anyway.. who knows siapa yg jadi jodoh kita.
Bisa jadi jodoh kamu adalah cowo yg acak2an…biar seimbang..
Cara pandang setiap orang memang berbeda, gpp. Untuk masalah kerapihan itu juga kembali pada kebiasaan dan tentunya cara pandang terhadap dirinya sendiri, dan saya termasuk salah satu yang mengutamakan kerapihan hehe…
Bener bgt dik
Bijak pada diri
Bijak pada orang lain
yang penting jadilah diri sendiri…okay
tetap semangat dan tetap optimis
do the best,
salam kenal
pendapat boleh beda nggak apa kok
Yaaa, ga usah dipikirin banget lah Kak Sen..
Ga usah diperkarain..
@yak
kalo gak diperkarain.. gak ada yg bisa diposting ..
nah itu dia, kalo ga ada perkara ntar ga ada posting
yang mengerti siapa kamu kan hanya diri sendiri jadi jika kamu merasa nyaman dengan dirimu saat ini. terserah orang mau bilang apa
kita emang butuh waktu untuk mengenal seseorang lebih dalam lagi
dan tentunya ga hanya ngeliat orang tersebut dari ‘cover’nya aja
hehe
Dieennnkkk…!! “Do not judge a book by its cover” – adalah slogan kebangsaan gw looohhh….!!
People do judge! It’s undeniable. Just don’t judge so quick that u might miss the real essence behind the cover
haha… nah kalo itu gue setuju, tapi yaaahhh… ga mungkin kan untuk ga men-judge a book by its cover?
just be u’re self aja..
yang lalu biarlah berlalu…santai saja…gausah dipikirin
jadi binung saya bacanya…
maklum rada lola hehheeheh
)
kalau diibaratkanitu seperti telur yah. kan yang dipakai isinya bukan kulitnya (nyambung gak yah
gw rasa sih wajar aja. itulah yang dinamakan penilaian akan kesan pertama.
karena kalo kita punya penilaian pada saat kesan pertama, salah satunya melihatnya rapi itu. kalo memang menarik, dan pengen dikenali lebih jauh, ya tinggal dilanjutkan. karena udah ada yang mengasah menuju keinginan tuk lebih dekat itu.
kalo dalam kesan pertama udah gak nyaman. gimana mau melanjtukan??? yah. walaupun gak melulu penampilan menjadi tolak ukur, tapi masing masing orang punya sudut pandang masing masing akan sebuah penilaian.
wajar aja…
ada juga yang gak melihat dari penampilan. tp pasti ada sisi lain yang dia nilai, entah apa itu. sama juga, JUDGEMENTAL!!!