Semalam, ketika saya mengecek hp saya yang tertinggal di kamar, ada 2 SMS masuk dari seorang teman lama. SMS pertama datang satu jam sebelum saya mengecek hp tersebut. Isinya hanya menanyakan kabar dan apa yang sedang saya lakukan sekarang. SMS kedua datang sekitar 15 menit setelah SMS yang pertama, isinya: kayaknya lo lagi sibuk banget ya? Pasti sibuk mikirin konsep lagi deh. Padahal tadinya mau ngajak ngobrol-ngobrol tapi ya udahlah, good luck untuk konsepnya ya.
SMS yang kedua membuat saya berpikir. Hey, darimana dia bisa menebak saya sedang memikirkan konsep? Apakah saya ini memang an easy to read book? Atau setelah lama tidak ada contact, sekarang dia memiliki indra keenam? Atau (dan inilah kemungkinan yang paling saya takutkan)… jangan-jangan selama ini saya tidak punya kerjaan lain selain memikirkan konsep?
Seorang teman pernah mengatakan kalau dia menyukai pemikiran dalam kepala saya yang begitu cepat, sangat mengimbangi aksi saya yang terkadang berkesan lambat. Baginya, saya ini jelas tipe think before act person dan dia menyukai hal itu. Dulu saya pikir cepatnya pemikiran-pemikiran yang muncul di kepala saya adalah sebuah anugrah karena tidak semua orang memilikinya, tapi sekarang saya merasa seperti memiliki kekuatan yang sama seperti yang dimiliki seorang superhero.
Pemikiran yang muncul begitu cepat, kelewat cepat malahan adalah berkah dan kutukan dalam waktu yang bersamaan.
Iya, saya tahu ini berkah dan tidak seharusnya saya mengeluhkan soal ini. Tidak semua orang bisa memiliki pemikiran yang muncul begitu cepat dalam kepala. Dengan cepatnya pemikiran-pemikiran ini, saya bisa mendapatkan pekerjaan dan bertahan di pekerjaan saya yang sekarang ini hingga bos saya berpikir untuk memindahkan saya ke Batam dengan jabatan yang lebih tinggi lagi tahun depan. Dengan begitu cepatnya pemikiran-pemikiran ini, saya bisa saja menggunakannya untuk menarik perhatian lawan jenis. Seorang teman yang saya kagumi bahkan memuji dan menyukai cepatnya pemikiran yang muncul di kepala ini, secepat The Flash katanya.
Tapi…
Di sisi lain saya merasa ini adalah sebuah kutukan untuk saya. Cepatnya pemikiran ini tidak pernah bisa saya imbangi dengan cepatnya aksi saya. Terkadang, cepatnya pemikiran ini malah membuat saya terpaksa menghentikan segala kegiatan saya agar saya mampu mewadahi semua pikiran-pikiran yang muncul di kepala saya, mengolah pemikiran tersebut hingga akhirnya menjadi sesuatu yang lebih berguna ketimbang sebuah pengisi kepala saja. Dan kamu tahu? Mereka, menyebut saya pelacur ide karena saya memang memiliki begitu banyak ide yang tidak pernah benar-benar tersentuh oleh saya karena… saya benar-benar tidak bisa mengimbangi semua ide yang muncul di kepala saya dengan aksi dalam waktu yang bersamaan.
Hari ini saya berharap bisa melalui sehari saja tanpa ada pemikiran yang muncul di kepala saya atau kalau pun ada, saya ingin benar-benar bisa mengabaikan semua pemikiran tersebut, bukan lalu mendalami pemikiran tersebut.
Recent Comments