Dear God
Dear God,
Would you mind to makes things right, now?
Cause I swear, I can’t take it anymore
Please holding back my tears here, God.
Dear God,
Would you mind to makes things right, now?
Cause I swear, I can’t take it anymore
Please holding back my tears here, God.
Beberapa hari yang lalu, when I was having a grande Frapuccino Hazelnut at Starbucks, saya melihat beberapa orang anak SMA sedang mengobrol. Mengingat Starbucks tempat yang lumayan sepi dan kebiasaan anak-anak SMA untuk mengobrol dengan suara keras, saya tentu bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Salah satu dari mereka akan mengikuti lomba pidato tapi merasa tidak percaya diri, sementara teman-teman yang lainnya berusaha menyemangati.
Mendengarkan obrolan mereka, pikiran saya teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SMP. Dulu, saya adalah tipikal orang yang sangat minder. Jangankan tampil di depan orang-orang yang tidak dikenal, untuk mengatakan sesuatu di depan kelas aja saya nyaris tidak bisa melakukannya. Sampai pada satu hari sekolah saya menyatakan bahwa akan mengirimkan satu kandidatnya untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris dengan tema: drugs prevention.
Tidak ada seorang pun yang merelakan dirinya untuk mengikuti lomba tersebut, yang ada satu sama lain malah saling menunjuk. Sampai akhirnya seorang teman meminta saya untuk menyusun naskahnya dan dia yang akan membacakannya. Sebenarnya waktu itu saya merasa sedikit enggan. Pertama, saya tidak yakin saya bisa menulis pidato dalam bahasa Inggris. Kedua, tanpa alasan yang jelas perasaan saya tidak enak. Tapi, paksaan teman saya akhirnya membuat saya membuatkan naskah pidato.
Tapi kamu tahu apa yang terjadi pada hari perlombaan?
Teman saya bohong. Dia memasukkan nama saya sebagai kandidat dan mau tidak mau saya harus membacakan naskah di depan umum. Waktu itu saya benar-benar merasa ditipu habis-habisan. Saya merasa sangat marah, tapi ketegangan yang muncul ke permukaan jauh melebihi rasa marah saya. Akhirnya mau tidak mau saya harus maju ke depan, membacakan naskah pidato bahasa Inggris saya di depan umum. Tempat perlombaan saat itu panas, tapi saya justru merasa sangat kedinginan.
Saya tidak yakin dengan cara saya berpidato waktu itu, yang saya pikirkan hanyalah bagaimana saya berusaha sebaik mungkin menutupi ketegangan saya, tetap membacakan naskah pidato tersebut secepat mungkin, lalu turun dari panggung dan bersikap seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi sebelumnya (meskipun hati kecil saya sangat ingin menghadiahi teman saya itu sebuah bogem mentah).
Dan jangan tanya apa saya bisa melakukan semua itu dengan baik, karena sejujurnya saya sama sekali tidak tahu apa pun. Satu-satunya yang saya tahu adalah saya menjadi juara dua, sebuah prestasi yang membanggakan dan jauh di luar perkiraan saya.
Sejak saat itu saya mulai berusaha membuka diri saya, meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki kemampuan, dan melatih rasa percaya diri saya. Saya juga melatih beberapa kemampuan berbicara di depan umum saya, mempertajam kemampuan bahasa Inggris saya, dan memperluas pengetahuan umum saya.
Sore itu, waktu saya menguping obrolan anak-anak SMA itu, saya bertanya-tanya:
Apakah saya akan berada di posisi sekarang ini jika waktu itu saya tidak terpaksa mengikuti lomba tersebut?
Apa yang akan terjadi seandainya waktu itu hak saya untuk diam tidak diperkosa oleh teman-teman saya atau setidaknya waktu itu saya tidak tinggal diam ketika saya merasa hak saya untuk diam diperkosa oleh teman-teman saya?
Tapi ya…
tidak peduli seberapa besar energi yang terkuras untuk mempertanyakan hal tersebut, saya tidak akan pernah benar-benar menemukan jawabannya.
After all I’ve been blessed
Recent Comments