Thank God I’m Not The Only One
“I’m worry about my future… I really do!”
Itu status facebook salah seorang teman saya. Perlu waktu beberapa detik untuk saya berpikir sampai akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan komentar:
“Why you should worry about it? You have your plan but God own the masterplan. Just take the step!”
Sebenarnya ketika saya meninggalkan komentar yang canggih itu *okay, yang mau nimpuk tolong antri, saya tidak hanya berbicara kepada teman saya itu, tapi juga berbicara pada diri saya sendiri. Karena, terus terang, waktu saya membaca status itu (atau bahkan sampai sekarang?), saya juga merasakan hal yang sama seperti teman saya itu. Sama-sama mengkhawatirkan tentang masa depan.
Padahal kalo boleh saya sedikit membahas tentang teman saya itu, secara kasat mata, dia tidak mungkin mengalami kegagalan dalam masa depannya. Dia cantik, kepribadiannya menarik, pernah masuk dalam nominasi sebuah model sebuah produk kecantikan, baru lulus dari universitas (atau institut?) negeri kenamaan di Bandung, sedang membangun usaha sebuah butik, dan punya pacar yang tidak kalah potensial. See, saya tidak melebih-lebihkan lho.
Jadi kalau orang seperti teman saya saja bisa mengkhawatirkan soal masa depannya, apa kabarnya dengan orang seperti saya?
Semakin mendekati ulang tahun saya yang ke 22, saya semakin merasa takut dan khawatir akan masa depan saya. Saya sudah punya standardisasi soal tingkat kesuksesan dalam hidup saya, saya juga sudah punya rencana apa yang harus saya lakukan, tapi tetap saja hal seperti itu tidak membantu saya untuk berhenti mengkhawatirkan soal masa depan saya. Meskipun saya juga yakin sepenuh hati kalau Tuhan juga punya rencana untuk saya, dan Tuhan lebih tahu yang terbaik buat saya, dibandingkan saya sendiri.
Saya yakin, setidaknya satu kali dalam hidup seseorang, mereka pernah merasakan kekhawatiran akan masa depannya. Hasil dari pembicaraan tengah malam dengan seorang teman membuat saya menyimpulkan bahwa beberapa dari mereka yang mengkhawatirkan masa depannya tidak melakukan apa-apa untuk mengatasinya itu dan hanya menjadikan kekhawatiran itu sebagai sebuah reaksi akan kesuksesan orang lain, bukan sebagai sebuah batu loncatan untuk mulai melakukan tindakan membangun masa depan; beberapanya lagi terlalu terbuai dengan hambatan yang mungkin dihadapi dalam proses membangun masa depan sehingga lupa untuk bertindak; sementara sisanya, mulai bertindak dan berusaha sebaik mungkin untuk meraih masa depan sesuai yang diimpikannya.
Saya, tidak mau termasuk dalam kategori orang yang beberapa. Saya ingin masuk ke dalam kategori sisanya. Maka, saya mulai memantapkan langkah saya, mengambil tindakan dari mulai hal yang kecil demi meraih tujuan itu… tujuan untuk menjadi lebih baik lagi dalam segala aspek kehidupan dalam hidup saya.
Maka saya mulai lagi berolahraga secara rutin, berhasil memaksa seorang teman untuk mengajari saya salsa secara cuma-cuma, mencoba minum susu – WRP Body Shape (padahal dari umur 3 atau empat tahun saya tidak menyukai susu yang diseduh dan cuma mau minum ultra atau produk sejenisnya), mengeluarkan cukup banyak uang untuk membeli beberapa produk kosmetik dan meminta teman yang juga pelatih salsa saya untuk mengajarkan saya tata cara make up yang baik dan benar, membaca lebih banyak buku dari segala jenis; mulai dari chicklit hingga kumpulan jurnal canggihnya Idi Subandy Ibrahim, mengatur pola tidur supaya tidak terlalu malam sehingga saya tidak akan malas ketika adzan shubuh memanggil saya untuk menghadapNya, mendekatkan diri saya dengan Tuhan (setelah bertahun-tahun saya memeluk agama Islam KTP), bertemu dengan lebih banyak orang; mulai dari teman lama hingga mencari teman baru sehingga pikiran saya lebih terbuka, dan… argh, terlalu banyak untuk disebutkan.
Tapi yang jelas, saat ini saya sedang berusaha… benar-benar berusaha untuk masa depan saya. Saya tidak mau lagi menjadi orang yang terlalu banyak mengeluh dan menuntut tentang kehidupan saya kepada Tuhan. Saya hanya ingin menjadi orang yang ikhlas menerima apa pun yang Tuhan berikan pada saya. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri tapi dengan fitur tambahan lebih baik dalam segala aspek kehidupan saya.
Dan saya ingin meminta doa dari kamu semua semoga semuanya berjalan lancar
Saya akui, sindrom pra 22 ini memang lumayan menganggu aktivitas dan prilaku saya, terutama pola pikir saya terhadap hidup dan masa depan saya, tapi untuk tahun ini saya memutuskan untuk tidak menyerah dan berbuat sesuatu untuk mengatasi itu.

Baiklah, untuk tulisan kali ini saya harus angkat topi buat kamu. Saya rasa membulatkan tekad seperti itu, akan jadi langkah awal yang sangat baik untuk langkah kamu selanjutnya.
Ndak perlu terlalu melihat ke orang lain. Setia orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dari sana, mereka juga akan punya jalannya sendiri-sendiri. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai pelajaran, tapi jangan sampai jadi beban. Karena kita semua berbeda.
Ayo, sekarang kamu nonton bola. Biar bisa berkomentar di blog saya. Hehehe!
ha ha ha, kok jadi nonton bola yah
aduh kalo soal bola nyeraaaaahhhhh
gw jg nyerah klo soal bola
wah.. gw juga nie… mikir masa depan gw malah pusing… apalagi di usia gw yg 19 sepetmber kmren dah menginjak 22 th
usia ko diinjak2 ngga sakit pa..perasaan gw belum bisa buat karya apapun, boro2 mo banggain orangtua, buat bangga temen gw aj ngga bisa…, tp gw yakin suatu saat pasti bisasok optimiscieeee….mashi banyak waktu bro
perjalanan hidup masih panjang
gw mau komen themenya dl, kok sama dengan blog yang baru yah???
sengaja nih di kembar2 in??? apa yang baru, themenya dah di ganti?
*coba cek cek dulu*
sengaja biar kembar hehe
oh gt toh
salutt saluttt….kekhawatiran boleh saja terjadi pada siapapun, karena manusia jenis dan bentuk apapun pasti merasakan hal itu. termasuk lw, dan tentu gw juga!!! tapi, setelah beberapa kali mengalami kekhawatiran dalam beberapa hal, apa yang kita rubah dari kekhawatiran itu??? justru semakin keruh suasana yang ada. semakin kuatir, semakin terpuruk!!!
well, hal yang paling berbahaya dan harus di hindari adalah, menjadikan tolak ukur keberhasilan orang lain sebagai kegagalan kita. tiap orang punya potensi masing2, dan punya rejeki masing masing. dan tentu, tuhan juga punya rencana masing masing untuk tiap orang.
satu hal yang gw salut sama lw, yang walaupun saat ini sedang terganggu oleh sindrom 22, yang entah kenapa kok gak hilang hilang itu, lw justru belajar dari sisi yang berbeda. lw mencoba menjadi lebih survive dengan menggali kembali potensi yang ada dalam diri lw. sekaligus belajar mendekatkan diri pada sang pencipta. itu sebuah kekujuran atas kata hati seorang senny!!!
“hidup ini hanyalah sebuah permainan sebuah proses pendewasaan jiwa, sukses dan gagal adalah sepasang kondisi yang tak bisa terpisahkan, karena tuhan menciptakan segala sesuatu dengan berpasang2an. tak ada yang perlu di hindari…
bangunlah dari segala keterpurukan, bergegas dan menjauhlah dari segala kekhawatiran, berhentilah dari segala keluh kesah, lupakan bayang bayang duka, karena semua itu akan melumpuhkan segala masa depan yang lebih baik….
klo lg gini bang zulhaq kelihatan kedewasaanya,,, seakan kesintinganya telah sirna..
semoga kelak klo gw dah seumran bang zulhaq
bisa punya pola pikir yg dewasa jg..
amin…
cieee… zulhaq dapet pujian gt deh
bentar lagi yos langsung diangkat jadi ketua groupiesnya zulhaq haha
ha ha ha gw jadi malu nih kalo kayak gini he2
to all: thx banget yah!
you guys means so much for me
ya ya… pra 22 syndromenya masih ada siy tapi it wont kill me, only makes me stronger
*halah udh berasa dapet award gini gue
gw dukung dengan doa sen…
cayoooooooo semangat
haduh, kuk sama sih jenk?
gw baru 22 jg nih
bnyak bgt yg gw pkirin.. hufh..
lam knal ya
ayo kita bikin group blogger “22 community” hehe..
perasaan dari lusa pe hari ni td dapat temen blogger seangkatan terus… apa mang usia segitu pada getol2nya ngeblog ya..
gw ikutan deh kl ada group 22
__bri boleh gabungiaa kalau dah ada groupnya..ahahay__
____salampagi iaa..semangat buataktifitas(kuliah) hariini_____
_______SEMANGAATT>>>CIIAT..^^_______
ah kalian kalo udh tua jangan kebanyakan bergaul sama anak muda jadinya mengingkari umur haha
sen sen, ikutan salsa doong… (“,)
yuk ah kita salsa bareng, kali aja nyaingin vena melinda haha
duh vena melinda yaa?i kita2 kan lebih nyerempet aura kasih geto kikikikik…
saya juga khawatir ini..
tapi sudahlah, jalani saja dengan baik.. mudah2an dapat yang terbaik.
bukan mudah-mudahan tapi pasti dapat yg terbaik
“Why you should worry about it? You have your plan but God own the masterplan. Just take the step!”
Kalimatnya emang canggih kok Sen. Jadi gw ga bakalan nimpuk lo kok.. hehe.
Gw sampe ngulang 3x demi meresapnya kalimat itu dalam sanubari *tsaahh..
Saat ini gw memang sedang mengkhawatirkan masa depan.
Parahnya, kayaknya gw termasuk golongan yang:
“terlalu terbuai dengan hambatan yang mungkin dihadapi dalam proses membangun masa depan sehingga lupa untuk bertindak”
Hiks.. Hiks..
Gw juga mulai bertindak sebenernya, tapi Ya Allah….
Lambat banget gw geraknya. Udah kaya siput.
Tapi mendinglah. Daripada ga sama sekali?
Btw, kok gw ga ngerasain sindrom 22 ya?
Tapi feeling gw siy, gw bakal tertimpa sindrom 23.
xixixi