Saya punya seorang teman. Lelaki dan tidak akan pernah saya sebutkan namanya kepada kalian. Kita berteman dari zaman dulu, zaman saya masih abg labil yang bangga jalan-jalan di mall memakai seragam putih abu-abu. Dulu, semua orang yang saya dan dia kenal mengira saya dan dia pacaran, hubungan saya dan dia memang dekat banget siy.
Bahkan sampai sekarang, ketika secara tidak sengaja saya sedang jalan dengannya dan bertemu dengan teman-teman kami dulu, tidak sedikit dari mereka yang bertanya: “Masih?” dengan ekspresi kagum seolah-olah kami memang benar-benar pasangan yang masih langgeng bertahun-tahun.
Kenyataannya adalah tidak ada apa-apa di antara kami. Murni cuma teman. Titik. Nggak Pakai Koma. Saya selalu merasa aman dan nyaman setiap kali menghabiskan waktu dengannya. Setiap kali keinginan untuk jalan-jalan muncul ke permukaan, tapi lagi nggak mau pergi sendirian, dia adalah orang pertama yang saya hubungi. Kalau lagi ada keperluan ke satu tempat dan ngerasa butuh saran untuk sesuatu atau sekedar butuh teman untuk meningkatkan kepercayadirian, saya pasti memintanya untuk menemani saya.
Dan dia selalu ada. Selalu bisa menemani saya dalam setiap ‘aktivitas ingin ditemani’ saya, mulai dari mengantar saya mencari baju baru sekaligus memberi saran mana baju yang sebaiknya dibeli, menemani saya dengan pikiran dan khayalan saya di coffee shop, menyanyi bersama di tempat karaoke, wisata kuliner bersama, survey tempat atau harga soal pekerjaan, bahkan sampai nyalon bersama. Sepertinya, selain ke kamar mandi, tidak ada satu pun aktivitas yang tidak bisa saya lakukan dengan dia secara bersamaan.
Belakangan hubungan kami yang sempat mulai merenggang kembali dekat. Dalam satu bulan, minimal satu kali frekuensi saya bertemu dengannya. Hal itu belum lagi ditambah dengan chatting via y!m atau facebook dan sms-sms nggak penting yang kalau dipikir-pikir lagi cuma sebagai aktivitas mengisi waktu dan membuang-buang uang.
Akhir-akhir ini saya mulai merasa suka. Beberapa orang teman mengatakan kalau akan lebih baik jika saya dan dia meresmikan hubungan kami ke level ‘lebih dari teman’, pendapat itu bahkan saya dengar tidak hanya dari orang yang mengenal kami dari dulu, tapi juga baru saja mengenal kami.
Sebenarnya pendapat bahwa sebaiknya kami pacaran sudah menjadi pendapat yang biasa untuk kami. Biasanya, saya tidak terlalu menanggapi pendapat itu. Biasanya saya cuma menjadikan itu pendapat yang masuk telinga kiri keluar kanan tanpa pernah saya sangkutkan di otak saya.
Tapi akhir-akhir ini, tanpa alasan yang jelas saya mulai kepikiran pendapat-pendapat tersebut. Alasannya sederhana: sejauh ini, cuma dialah yang bisa memberikan saya rasa aman dan nyaman tak terkira. Satu hal yang bahkan tidak bisa diberikan oleh Zhe, sahabat saya yang bergender perempuan.
Saya mulai berpikir kalau
We’re such a great team together
But it’s just impossible
And don’t ask why cause I would never answer
Recent Comments