Random Thought
Senny And Her Random Thought

Suatu Sore Di Starbucks

Suatu sore di Starbucks. Berada di tempat itu selalu mengundang senyum saya. Suatu kejadian yang takkan pernah bisa terhapus dari ruang memori saya telah terjadi di tempat itu, lalu peristiwa itu terekam dalam dokumentasi hidup saya.

Sore hari itu di Starbucks, hujan turun, membuat saya terpaksa berteduh di tempat itu… sendirian. Secara tidak sengaja, saya menemukan teman lama saya di situ. Dia sendiri. Saya sendiri. Kami pun lalu duduk di meja yang sama dan mulai larut dalam segelas kopi dan obrolan nggak penting yang menekan tombol flash back dalam otak saya.

Sore itu di Starbucks, saya sangat ingin menghentikan putaran waktu. Reuni dadakan ini terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja, membuat saya sangat ingin berkompromi dengan waktu. Sayangnya, waktu tidak pernah bisa diajak kompromi. Saya harus pergi, mengejar sebuah pertemuan urusan kerjaan yang tidak bisa diundur-undur, bahkan untuk suatu event berharga seperti reuni dadakan ini.

Saya lalu berpamitan dan pada saat itulah teman saya protes. Dia berkata bahwa saya selalu terlihat terburu-buru dan tidak menikmati waktu, kalimat terakhirnya adalah:

“Everytime I see you, you’ re always in a hurry.”

Saya sebenarnya merasa keberatan dengan pandangannya mengenai saya yang selalu terlihat terburu-buru dan tidak menikmati waktu, karena sebenarnya saya bukan tipe orang yang seperti itu, hanya saja kondisi saya ketika bertemu dengannya selalu saja dalam keadaan sedang terburu-buru mengejar sesuatu. Tapi bukannya saya membantah kalimatnya, saya hanya berkata:

“Kita ini lagi di jalan tol Bandung menuju Jakarta. Mobil yang dipae sama, kemampuan menyetir sama, dan kecepatan mengendarai sama. Logikanya, kita sampai di Jakarta dalam waktu yang sama, tapi di tengah perjalanan, lo tergoda untuk mampir di tempat peristirahatan dan beli minum, sementara gue memutuskan untuk tetap jalan, padahal gue juga haus banget. In the end, lo sampai lima menit lebih lama dari gue, tapi waktu gue sampai di jakarta dan mendapatkan 1 milyar, lo cuma mendapatkan setengah dari apa yang gue dapatkan. Intinya adalah, gue mungkin trkesan terlalu serius, terburu-buru, dan tidak menikmati hidup. Tapi itu semua gue lakukan karena gue ngga mau buang-buang waktu gue dan membiarkan keterlambatan gue mengurangi optimalisasi pencapaian tujuan hidup gue. Gue mungkin telah melewatkan banyak hal dalam hidup ini, begitu banyak kesenangan yang gue lewatkan begitu saja, tapi gue tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu gue di depan.”

Sore itu di Starbucks, saya nggak pernah tahu apa yang membuat saya mengatakan hal seperti itu. Saya nggak tahu dan nggak akan pernah tahu darimana kalimat itu muncul ke permukaan. Satu-satunya yang saya tahu adalah ekspresi wajahnya menyiratkan sesuatu.

Menit selanjutnya adalah dia memeluk saya, lalu mencium pipi kiri dan kanan saya, dan membisikkan suatu kalimat yang sebaiknya hanya diketahui saya, dia, dan Tuhan saja.

Pesan terakhirnya adalah: “Sampai ketemu di Jakarta, ya!”

Saya mengangguk dan tersenyum. Mengetahui bahwa pesan terakhirnya itu bukanlah suatu janji pertemuan di Jakarta, melainkan suatu janji pertemuan di titik akhir pencapaian tujuan. Pesan terakhirnya adalah kalimat berharga (bagi saya) yang membuat suatu sore di Starbucks menjadi kejadian yang lebih berarti dan selalu sukses mengundang senyum saya setiap kali saya berada di Starbucks.

Sore itu di Starbucks mungkin telah berakhir dan berlalu begitu cepat, tapi saya tahu, suatu saat nanti saya akan kembali bertemu dengannya.

Jadi…, sampai ketemu di Jakarta, ya!

17 Responses to “Suatu Sore Di Starbucks”

  1. sebentar,.,,,

    ini kok ’saya’??… what happen to si ‘gue’???

  2. sebentar,,, saya sibuk… kela dibaca deui.. hahaha

    • Lalaaaaaaa!!!!

      bok, saya udah bosen pake kata gue ah haha… dan lo buruan beresin kerjaan lo, itu cucian msh numpuk, kaca belum dilap, lantai belum dipel haha… udh gt baru baca blog ini

  3. gila… berteduh aja di Starbucks, kalo aku berteduh di gang

  4. Wkakakak.. Ada dua tokoh toh disini..? Saya dan Gue…

    Salam kenal mas…

  5. Wes… gud posting..
    Lam kenal…
    Visit BAck

  6. @wawan: biasanya siy berteduh di halte bis, cuma kebetulan om yang tadi bayarnya banyak jadi aja berteduhnya di Starbucks hahaha

    @Rudy: ada empat dong ah kalo gitu: saya, gue, dia, dan lo

    @gerlnich: thx! pasti dikunjungi balik

  7. kesimpulannya : senny mau ke jakarta demi beli starbuck… hmmm… di bandung juga banyak kali! :) )

  8. sampai ketemu di jakarta :lol:

    benerannnnn lo iniiii

  9. di bayar berapa sama pihak starb*** buat nyebutin tempat mereka sebanyak 8 kali?!??!? kaya nii pastinya… wewww..

  10. starbucks? hmm.. pengeluaran yang bisa sampe membludak kalo keseringan ke sana..

    cappuccino-nya enak!

  11. ihihihihi gw nanti kalo ke jakarta ngunjungin loe aja ya…

    dan minta sumbangan dari 1 M loe wahahahahha

    *pemalas yang santai hihihihi

  12. salam kenal nih dari blogger newbie

    just another newbie blogmaseta.info adalah web portal untuk saling berbagi pengetahuan dan informasi terkini tentang joomla, blogger, internet, berita hot, foto artis, video lucu, free download mp3

  13. Starbucks tuh sama tugu monas sebelah mananya ya…?

  14. kok sayah measih belum nemu waktu yg tepat untuk baca postingan ini yah.. *jdeuk-jedukin pala*

  15. err.. kdang klo saya mikir positif dan negative…
    tentang perjalanan bandung-jakarta demi 1 M . .. kemungkinanannya ada 2
    kamu smpe duluan dan dapet 1 M
    atau kamu ga pernah sampe ke jakarta karena terlalu buru2 dan kecapekan..

    semua mungkin..


Leave a Reply