Wanita Media
Kemarin gue ketemu sama temen lama gue di sebuah mall. Pertemuan nggak disengaja yang lalu menjadi reuni dadakan. Ada satu hal yang bikin gue sangat takjub dengan reuni dadakan. Sang teman lama ini, yang sebut saja namanya Ms. A mengalami perubahan fisik yang sangat jauh berbeda dari fisik Ms. A yang kukenal satu atau dua tahun lalu.
Setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya Ms. A cerita kalo dia melakukan berbagai jenis operasi untuk ‘mempercantik’ dirinya. Mulai dari penyuntikan supaya kulitnya putih, sedot lemak, sampai pembentukan bagian tubuh sana-sini. Hasilnya? Umm…, cantik siy tapi…
nampak sangat nggak alami (baca: palsu)
Dari reuni dadakan itu ada beberapa point penting yang kepikiran di kepala gue:
- Banyak banget masyarakat dunia yang secara sadar atau nggak menjadi korban propaganda media mengenai kecantikan. Dimana, seperti yang ditunjukkan oleh kebanyakan media, cantik itu sama dengan tinggi, berkulit putih, berhidung mancung, berbadan langsing, dengan muka indo. Lalu, saking besarnya propaganda media, akhirnya masalah inner beauty disingkirkan dan wanita-wanita yang kebetulan memiliki kecantikan yang tidak sesuai dengan kecantikan media merasa terintimidasi.
- Wanita-wanita yang merasa terintimidasi yang punya banyak uang posisinya jauh lebih mudah. Seenggaknya, dengan uang yang mereka punya, mereka bia memenuhi standar kecantikan media dengan melakukan operasi sana-sini, membeli kosemetik yang mahal, konsultasi ke dokter kecantikan paling canggih, smapai membeli banyak barang yang sebenarnya nggak diperlukan dan cuma berfungsi sebagai alat pemuas ego mereka akan kecantikan atau seenggaknya membuat mereka merasa cantik seperti para wanita media.
- Ternyata selama ini gue udah salah kaprah. Salah menilai kalo cuma cowok yang menjadi korban propaganda media karena pada kenyataannya cewek juga (termasuk gue), di luar kesadaran mereka, telah menghambakan dirinya menjadi korban propaganda media.
- Setuju dengan pendapat Icha Rahmanti dalam bukunya yang berjudul Beautu Case, bahwa dunia ini memang sebuah kontes nyata dimana setiap wanita berlomba-lomba menjadi cantik dan wanita-wanta yang masuk dalam kategori cantik itulah yang akhirnya memenangkan piala the most eligible man.
- Pada akhirnya saya sependapat dengan Idi Subandy Ibrahim bahwa saat ini, bukan lagi media yang ditonton oleh masyarakat tetapi keadaan berubah menjadi media yang menonton masyarakat.
Kalo sudah begini gue jadi bingung. Bingung mendefinisikan kecantikan itu seperti apa. Bingung harus menyalahkan siapa.
Apakah keinginan besar setiap wanita untuk menjadi wanita media (atau seenggaknya terlihat seperti wanita media) itu karena pengaruh media yang sangat kuat?
Lalu… siapakah yang bisa disalahkan dalam hal ini? Apakah media yang terlalu gencar dan kuat mempropaganda masyarakat? Atau masyarakat yang terlalu lemah menerima propaganda-propaganda media?
What about you, guys?
What do you think about this?
