Arsip untukMaret, 2008

Ketika Kekuatan Adalah Kelemahan

Cuma 3 hari waktu yang dibutuhkannya untuk memasuki kehidupan gue dengan gampangnya. Cuma 3 hari dia bisa membuat gue menjadi adiksi padanya. CUma 3 hari membuat gue terbiasa dengan kehadirannya. Cuma 3 hari untuk semuanya tapi…

Cuma 3 hari juga dia bertahan. Cuma 3 hari juga dia memasuki kehidupan gue. Dan setelah 3 hari itu, dia pergi begitu saja… nggak ada pesan atau penjelasan

Dan hal itu bikin gue…

Bertanya-tanya tentang apa yang salah. TEntang kenapa cuma 3 hari dia bertahan. TEntang kenapa nggak pernah bisa awet dengan siapa pun. TEntang kekalahan sebelum maju. Tentang hubungan yang berhenti sebelum dimulai.

Tapi semakin gue bertanya-tanya, justru semakin gue pusing. NGgak pernah ada penjelasan tentang semuanya. NGgak pernah ada jawaban yang memuaskan. Semuanya terasa absurd.

LAlu kembali Zhe menegaskan kepada gue untuk (lagi-lagi) nggak terlalu independent.

Itu lagi!

Dari dulu gue selalu bermasalah dengan terlalu independent…

I am TOO independent!

Tapi apa salahnya menjadi independen? BUkannya menjadi independent itu bagus? BUkannya mau nggak mau setiap orang itu harus jadi orang yang independent?!

Lalu Zhe kembali berkata kalau gue ini adalah orang yang kuat. TErlalu kuat hingga akhirnya mengintimidasi mereka (baca: para pria).

Dari situ gue mengambil kesimpulan kalau justru… untuk gue - seorang yang terlalu biasa ini, kekuatan adalah kelemahan gue.

KEkuatan guelah yang bakalan membawa gue menuju keberhasilan. KEkuatan gue yang bakalan membuat gue mendapatkan sesuatu yang gue inginkan.

Tapi…

di sisi lain…

Justru kekuatan itu yang menjadi kelemahan gue. Kekuatan gue itu yang membuat gue kehilangan sesuatu yang seharusnya ada.  Kekuatan gue justru membuat gue terpaksa menjadikan hubungan (dengan siapa pun dan dalam bentuk apa pun juga) menjadi prioritas akhir.

Dan kekuatan gue membuat gue terpaksa kehilangan banyak hubungan.

Ugh…, it’s hard to be me! Really!

Gay Is Woman’s Best Friend

Yes… they are!

Entah dunia gue yang rada menyimpang atau emang sekarang ini gay lagi nge-trend tapi yang jelas, gue punya banyaaaakkkk banget temen-temen yang gay. Tapi… itu bukan masalah sama sekali karena… gay adalah teman yang paling baik.

Kenapa?

Untuk gue…, gay adalah teman yang paling nyambung diajak ngobrol tentang segala hal, mulai dari:

Diajak gossip, mereka bisa banget malahan kadang kemampuan bergossipnya mengalahkan gue.

Diajak ngobrol serius, mereka juga bisa.

Diajak ngeceng, asyik banget karena ternyata mereka punya selera yang sama dengan gue.

Diajak ngomongin tentang make up; salon; fashion; dan banyak hal tentang cewek lainnya, mereka biasanya jauh lebih tau daripada temen cewek gue.

Diajak curhat, mereka malah bisa jauh lebih ngertiin gue daripada teman gue yang straight mau itu cowok atau cewek.

Diajak belanja, mereka asyik banget karena banyak kesamaan selera.

Singkatnya…

Gay adalah teman yang selalu bisa mengerti gue dan selalu dapat diandalkan ketika gue butuh seorang teman untuk diajak ngobrol.

Jadi… siapa yang peduli tentang penyimpangan seksual mereka kalo pada akhirnya gue malah menjadikan gay sebagai teman baik gue?!